Sunday, November 25, 2012

Korban scammer di Amerika kehilangan lebih dari ribuan dollar

Percakapanku dengan scammer membuatku banyak membaca artikel tentang korban scammer. Di Indonesia grup yang memperjuangkan korban scammer belum ada (setauku, atau aku belum tau). Tapi di Amerika bahkan sampai ada banyak grup yang memperjuangkan untuk korban scammer.

Kasusnya melanda orang di atas 40 tahun, laki-laki atau wanita yang kesepian. Para scammer menghibur mereka, lalu menyedot uang mereka. Begitu mereka punya credit card, atau rekening bisa jadi uangnya akan habis diambil.

Orang separuh baya ini banyak yang hidup sendirian. Di social media, aku banyak dikirimi message orang berumur di atas 60 tahun. Terus terang aku gak minat chat ma kakek-kakek (subyektif juga ya). Ada yang minta aku pake webcam, aku gak mau. Banyak orang barat yang kesepian.

Kasusnya bisa sampai parah, saking cintanya dengan scammer dengan menjalin chat yang begitu membuat hati deg-degan, kayak menghisap candu saja, mereka gak pengen kehilangan scammer itu. Begitu mendengar kekasihnya (scammer) dalam masalah, bahkan ada kasus nenek-nenek ingin menjual rumahnya walau dilarang keluarganya.

Aku gabung dengan grup di yahoo kumpulan korban scammer dan bercerita yang kualami, walau aku tidak mengalami banyak kerugian seperti cerita korban scammer yang lain. Terus terang aku hanya bisa menduga-duga bahwa, mereka melatih kemampuannya untuk menghipnotis, karena ada kasus aku tidak mau menerima telpon dia marah-marah. Scammer kedua juga minta voice call YM. Aku terus terang belum ngeh, dan scammer kedua ini gak menyerah walaupun aku bilang gak punya uang di rekening dan gak akan bayar apapun.

Balas dendam scammer bisa dengan menyebarkan foto porno, entah mereka sukses minta korbannya pakai baju seksi. Atau mengirim e-mail yang mengandung virus. Kadang mereka minta tebusan dengan ancaman ini itu. Benar-benar kasus serius di Amerika, Kanada, Australia dan beberapa negara maju lain. Bahkan pihak pemerintah turun tangan. Sedangkan di Indonesia, aku mencoba kirim e-mail dijawab hubungi kepolisian terdekat. Mencoba kirim e-mail ke Malaysia, disuruh bikin transkrip e-mail dengan IP Address, gak ngerti aku, disuruh temenku lupakan saja. Ada sih yang mencoba menghiburku karena kehilangan uang yang tidak seberapa sejutaan rupiah (dibanding korban di Amrik sampe kehilangan rumah) mau digantiin. Aku bilang ntar uangnya aku kasihin ke panti asuhan.

Ini blog uneg-unegku, beberapa waktu lalu aku banyak memposting tentang kosmetik sampe temenku bilang bosan. Sekarang aku banyak memposting tentang scammer. Kayaknya korban abege di facebook lebih mengerikan, sampai diperkosa dan dijual sebagai pelacur anak.

Rasanya memang pedih akhir-akhir ini.Ada perang di Gaza, pemerkosaan kenalan di Facebook, romance scam di situs dating, korupsi merajalela, kosmetik bermerkuri yang membuat wanita keguguran dan mandul. dan sebagainya. Aku cuman bisa menuliskan semuanya... hanya itu yang kumampu. Semoga bisa dijadikan pelajaran semuanya... Ini ada email langkah-langkah bagi korban scammer di Amerika untuk atasi kepedihannya

 There are certain stages of grief:

 1) Shock – Immediately following the news that you have been scammed, it is difficult to accept the loss. A feeling of unreality occurs. During those first days there is a feeling of being-out-of-touch.

 2) Emotional Release – the awareness of just how dreadful the loss is accompanied by intense pangs of grief. In this stage a grieving individuals may sleep badly and weep uncontrollably.

 3) Panic - For some time a grieving person can feel in the grip of mental instability. They can find themselves wandering around aimlessly, forgetting things, and not being able to finish what they started. Physical symptoms also can appear -- tightness in the throat, heaviness in the chest, an empty feeling in the stomach, tiredness and fatigue, headaches, migraine headaches, gastric and bowel upsets.

 4) Guilt – At this stage an individual can begin to feel guilty about failures to recognize the signs that they were being scammed; guilt over what happened or what didn't happen.

 5) Hostility – Some individuals feel anger at their scammer and maybe anger at God. How could another human being have done this to us? How could God have allowed this to happen to me?

 6) Inability to Resume Business-as-Usual Activities - the ability to concentrate on day-to-day activities may be severely limited. It is important to know and recognize that this is a normal phenomenon. A grieving person's entire being – emotional, physical and spiritual, is focused on the loss that just occurred. Grief is a 100% experience. No one does it at 50%.

 7) Reconciliation of Grief – balance in life returns little by little, much like healing from a severe physical wound. There are no set time frames for healing. Each individual is different. 

 8) Hope - the sharp, ever present pain of grief will lessen and hope for a continued, yet different life emerges. Plans are made for the future and the individual is able to move forward in life with good feelings.

Baca juga : A letter for Gavin a romance scammer

No comments: