Sunday, December 23, 2012

Memperingati hari Ibu haram?

Indonesia memang negara yang suka ikut-ikutan. Aku gak tau apa itu yang disebut kreatifitas atau malah jadi bangsa pengekor. Yang paling parah adalah perayaan hari Valentine. Dari sejarahnya hari Valentine itu memperingati orang suci agama lain. Tapi disalahkaprahkan dengan penyerahan keperawanan sebagai tanda cinta yang masih pacaran.

Terus bikin ngakak adalah ada berita dengan foto anak perempuan pakai seragam SMA yang demo di atas mobil membela Aceng Fikri (di belakangnya didampingi laki-laki dewasa). Teriak-teriak "Nikah siri halal, zina yang haram". Kalo nikah siri diniatkan membeli keperawanan kok dibela, baru 4 hari dinikah sudah dicerai lagi. Ayo... kalo mau bicara soal halal haram di Islam, diperpanjang lagi dengan membahas bagaimana seorang laki-laki mesti memuliakan seorang wanita.... (beneran pengen misuh-misuh liat berita itu sebagai wanita aku sih, emang anak pakai seragam SMA itu dibayar berapa coba sampai mau teriak-teriak menghalalkan jual beli keperawanan).

Hari Ibu itu gak usah diperingati menurut Eramuslim dot com. Karena berdasarkan sejarahnya...

Hari Ibu diperingati dengan berbagai alasan. Di sebagian negara Eropa dan Timur Tengah, Hari Ibu atau Mothers Day dirayakan pada bulan Maret. Hal itu berhubungan dengan kepercayaan mereka memuja Dewi Rhea, istri Dewa Kronus, dan ibu para dewa dalam sejarah atau mitologi Yunani Kuno. Di negara seperti Amerika Serikat, Australia, Kanada, Belanda, Malaysia, dan Hongkong, Hari Ibu diperingati pada hari Minggu kedua bulan Mei. 

Karena hari itu pada 1870 seorang ibu aktivis sosial, Julia Ward Howe, mencanangkan pentingnya perempuan bersatu menghentikan Perang Saudara di Amerika yang belum berserikat. Sejarah hari ibu telah dikenal pasti sebagai perayaan musim bunga orang-orang Greece, sebagai penghormatan terhadap Rhea, ibu kepada tuhan mereka. Masyarakat Inggris pada tahun 1600 merayakan hari yang mereka namakan sebagai “Mothering Sunday”. sebagian orang-orang Kristen akan berhenti memakan makanan tertentu karena alasan dogma agama. Mereka beralasan amalan tersebut diciptakan karena sebagai penghormatan mereka terhadap Mother Mary. Mother Mary adalah Maryam, ibu kepada Nabi Isa Alaihissalam atau Jesus yang mereka anggap sebagai tuhan.

Kalo Valentine's Day menurutku emang gak penting banget, itu akal-akalan penjual coklat dan kartu, mall besar untuk bisnis. Tapi terus kalo ulang tahun, hari Ibu, hari Kartini, hari Guru, hari Pramuka, Tahun Baru, Maulid Nabi, dan seterusnya gak boleh diperingati dengan alasan ini itu. Karena tidak sesuai dengan syariat Islam dan sejarahnya gak jelas. Apa terus berdosa memperingati hari-hari itu?

Kembali pada istilah haram dan halal. Sudah jelas haram di Islam adalah makan daging babi misalnya. Tapi kalau memperingati hari ulang tahun di Mc D misalnya (anak 2 tahun saja jaman sekarang sudah lancar bilang Mc D) yang ada stempel halal dari MUI apa itu haram? Ada unsur membahagiakan anak, menyambung silaturahmi dengan teman-teman. Lebih baik lagi pestanya sesuai kemampuan, tidak berlebihan dan sebagian disumbangkan pada yang kurang mampu. Ini saran... kalo berani tampil beda, bawa mekdi dan teman-temannya yang ultah di Panti Asuhan supaya belajar tentang kesederhanaan di Panti Asuhan. Dan membahagiakan orang jangan yang kaya saja, yang kesusahan bila dibahagiakan itu namanya memahami mencari ridho Allah. Mencari ridho Allah adalah melakukan hal-hal sesuai perintah Allah.

Soal sejarah biarlah jadi sejarah. Aku juga memperingati hari Turning Pointku pada bulan 17 Juni 2009. Terus ngapain, ah gak ngapa-ngapain. Cuman ingat, itu awal aku memutuskan memperdalam Al Qur'an lalu prosesnya membuatku jadi blogger yang suka menulis tentang Islam. Ultahku juga gak penting. Kadang aku memberi hadiah spesial pada orang yang aku sayangi di ultah mereka, tapi aku sendiri gak memperingati ultahku. Kadang traktir, cuman orang spesial aja yang ditraktir. Atau malah seringnya ditraktir, ah lupa...

Bagi yang ingin memperingati hari Ibu menurutku pribadi gak haram. Selama niatnya membahagiakan Ibu dan tidak melakukan hal yang diharamkan agama. Yang menganggap haram, juga mohon menghargai yang memperingati, silakan berpendapat bahwa itu haram tapi gak usah gontok-gontokan ya....

Pada tanggal 22-25 Desember 1928, para pejuang wanita tersebut mengadakan kongres yang pertama, dengan dihadiri sekitar 30 organisasi perempuan dari 12 kota di Jawa dan Sumatera. Hasil dari kongres tersebut salah satunya adalah membentuk Kongres Perempuan yang kini dikenal sebagai Kongres Wanita Indonesia (Kowani). 

Kemudian, pada Kongres Perempuan yang ke-3 pada tahun 1938, para anggota yang hadir bersepakat untuk menjadikan tanggal 22 Desember sebagai perayaan Hari Ibu. Pada tahun 1953, peringatan 25 tahun Hari Ibu dirayakan secara meriah oleh sekitar 85 kota di Indonesia. Akhirnya, pada tahun 1959, Presiden Soekarno mengeluarkan Dekrit Presiden No. 316 tahun 1959 yang menetapkan bahwa tanggal 22 Desember adalah Hari Ibu, yang kemudian dirayakan secara nasional hingga sekarang.

Dari berbagai sumber

Baca juga 

 

5 comments:

aryadevi kelas media said...

mmmm..bagaimana ya bu...memang dilihat dari sejarahnya begitu, tapi kita lihat dari esensi yang berbeda dengan mengubah makna dan hikmah dari hari Ibu.
peringatan boleh sama tapi makna bisa berbeda dengan diawali meluruskan niat seperti sebagai momentum menghargai jasa Ibu (umum kaum wanodya). Tidak perlu dikaitkan dengan peringatan hari Ibu dinegara lain.
Sebenarnya para pendakwah itu mesti memberikan pembelajaran, penerangan yang proporsional, jangan cuma berkata HARAM atau Halal. Dengan memberikan penjelasan bagaimana membenarkan niat (tujuan) dengan merayakan hari Ibu. Peringatan hari ibu, sebagai momentum untuk pengingat,penegur bahwa kita mesti menghormati,menghargai jasa ortu terkhusus Ibu.....tidak hanya 1 hari itu tetapi untuk sepanjang masa...itu saja.

Ratnawati Utami said...

Para pendakwah itu berusaha lurus sesuai syariat. Maklum saja.

Tapi akhirnya ada unsur tradisi, budaya, kebiasaan orang Indonesia yang cari-cari momen untuk merayakan sesuatu.

Aku berpendapat Wali Songo itu sangat bijaksana mencoba memasukkan Islam dengan menselaraskan unsur budaya, jadi tidak langsung memutuskan halal haram.

Hidup tidak hanya ke masjid saja, tapi juga perlu bersosialisasi dengan unsur budaya setempat. Menurutku sih... CMIIW

eliensampurna said...

yg aku ra dong iso ne ngomong haram hari ibu indonesia itu lo. karna jelas2x. berbeda dengan peringatan hari ibu di negara lain.

r10 said...

peringatan hari buatan manusia itu tujuannya bisnis mbak, strategi marketing gitu, biar ada waktu buat promo :D

joogja circles said...

Memperingati hari ibu, saya setiap hari memperingatinya. :)