Monday, December 24, 2012

Muslim boleh tidak mengucapkan selamat Natal

Aku memutuskan tidak mengucapkan selamat Natal. Pilih diam saja. Tapi aku rasa sebetulnya kalo ada muslim yang mengucapkan selamat Natal kepada temannya atau pasang status di Facebook gak sungguh-sungguh. Niatnya cuman sekedar menghormati agama lain. Kecuali kalo memutuskan ikut berdo'a bersama di gereja, kebablasen itu sih. Soalnya do'anya ditujukan bukan pada Allah, tapi pada Trinitas.

Katanya sih MUI menyarankan tidak mengucapkan selamat natal. Pendapatku begini, soalnya natal itu berkaitan dengan kelahiran Yesus Kristus. Dan sejarahnya memang beda. Kayak Sunni dan Syiah, ada perbedaan pemahaman sejarah di situ. Biarpun sama-sama Islam. Aku pernah ngobrol secara online sama orang Syiah keturunan Iran di Italia, aku bilang "aku sangat menghormati sahabat Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam,Abu Bakar, Umar bin Khattab, Usman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib." Terus jawabnya "Islam itu agama penuh toleransi. Tapi, apa sih gunanya mendengarkan pendapat dari Abu Bakar, Umar dan Usman?". Aku pilih diam setelah offline aku block dia. Syiah hanya mengikuti Sunnah yang diteruskan oleh Ali bin Abi Thalib. Susah kan, aku sangat menghormati 4 sahabat dekat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, sedangkan orang Syiah menganggap tiga dari mereka gak penting.


Islam Sunni dan Syiah beda dalam memahami sejarah. Tapi suka ribut karena sama-sama Islam, dan aku memang tidak memungkiri keselnya gimana sih orang yang aku hormati dianggap remeh, milih gak ngontak lagi. Tapi kalo kita mengucapkan selamat natal pada orang Kristen, mereka akan merasa senang dan tidak diajak berdebat, malah mungkin diajak makan-makan... hehehe...

Natalan adalah memperingati lahirnya Yesus Kristus. Menurut Wikipedia

Cerita kelahiran Yesus dalam Injil Perjanjian Baru ditulis dalam kitab Matius (Matius 1:18-2:23) dan Lukas (Lukas 2:1-21). Menurut Lukas, Maria mengetahui dari seorang malaikat bahwa dia telah mengandung dari Roh Kudus tanpa persetubuhan. Setelah itu dia dan suaminya Yusuf meninggalkan rumah mereka di Nazaret untuk berjalan ke kota Betlehem untuk mendaftar dalam sensus yang diperintahkan oleh Agustus, Kaisar Romawi pada saat itu. Karena mereka tidak mendapat tempat untuk menginap di kota itu, bayi Yesus dibaringkan di sebuah palungan (malaf) 

Meskipun kapan Hari Natal jatuh masih menjadi perdebatan, agama Kristen pada umumnya sepakat untuk menetapkan Hari Natal jatuh setiap tanggal 25 Desember dalam Kalender Gregorian ini didasari atas kesadaran bahwa penetapan hari raya liturgis lain seperti Paskah dan Jumat Agung tidak didapat dengan pendekatan tanggal pasti namun hanya berupa penyelenggaraan kembali acara-acara tersebut dalam satu tahun liturgi, yang bukan mementingkan ketepatan tanggalnya namun esensi atau inti dari setiap peringatan tersebut untuk dapat diwujudkan dari hari ke hari.

Sedangkan kelahiran Nabi Isa 'alaihi sallam menurut Islam

Rasulullah SAW bersabda, “Aku diberikan kendaraan lebih baik dari keledai dan bukan bagal, jalannya begitu cepat, lalu aku mengendarainya bersama Jibril as, lalu aku sampai pada suatu tempat. Jibril berkata, ‘Turun dan shalatlah.’ Maka, aku pun melakukannya. Lalu, dia berkata, ‘Tahukah engkau tadi shalat di mana?’ Aku berkata, ‘Aku shalat di Tiba (Madinah) dan kepadanya aku berhijrah.’ Kemudian, dia berkata, ‘Turun dan shalatlah!’ Maka, aku pun melakukannya. Kemudian, dia berkata, ‘Tahukah engkau tadi shalat di mana?’ Aku berkata, ‘Tadi aku shalat di Bukit Sinai dan di situlah Nabi Musa berbicara langsung dengan Allah SWT.’ Kemudian, dia berkata, ‘Turun dan shalatlah!’ Maka, aku pun melakukannya. Kemudian, dia berkata, ‘Tahukah engkau tadi shalat di mana?’ ‘Tadi aku shalat di Bethlehem dan di situlah Nabi Isa dilahirkan. Kemudian, aku masuk ke Baitul Maqdis dan di situ dikumpulkan para nabi maka akupun diperintahkan oleh Jibril untuk menjadi imam mereka.’” ( HR an-Nasa’i).

Al Qur'an surat Maryam ayat 16 - 36

16. Dan ceritakanlah (kisah) Maryam di dalam Al Quran, yaitu ketika ia menjauhkan diri dari keluarganya ke suatu tempat di sebelah timur,
17. maka ia mengadakan tabir (yang melindunginya) dari mereka; lalu Kami mengutus roh Kami kepadanya, maka ia menjelma di hadapannya (dalam bentuk) manusia yang sempurna. (maksudnya Jibril)
18. Maryam berkata: “Sesungguhnya aku berlindung dari padamu kepada Tuhan Yang Maha pemurah, jika kamu seorang yang bertakwa.”
19. Ia (jibril) berkata: “Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang utusan Tuhanmu, untuk memberimu seorang anak laki-laki yang suci.”
20. Maryam berkata: “Bagaimana akan ada bagiku seorang anak laki-laki, sedang tidak pernah seorang manusiapun menyentuhku dan aku bukan (pula) seorang pezina!”
21. Jibril berkata: “Demikianlah.” Tuhanmu berfirman: “Hal itu adalah mudah bagiKu; dan agar dapat Kami menjadikannya suatu tanda bagi manusia dan sebagai rahmat dari Kami; dan hal itu adalah suatu perkara yang sudah diputuskan.”
22. Maka Maryam mengandungnya, lalu ia menyisihkan diri dengan kandungannya itu ke tempat yang jauh. 
23. Maka rasa sakit akan melahirkan anak memaksa ia (bersandar) pada pangkal pohon kurma, dia berkata: “Aduhai, alangkah baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi barang yang tidak berarti, lagi dilupakan.”
24. Maka Jibril menyerunya dari tempat yang rendah: “Janganlah kamu bersedih hati, sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu.
25. Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu,
26. maka makan, minum dan bersenang hatilah kamu. Jika kamu melihat seorang manusia, maka katakanlah: “Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan Yang Maha Pemurah, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusiapun pada hari ini.”
27. Maka Maryam membawa anak itu kepada kaumnya dengan menggendongnya. Kaumnya berkata: “Hai Maryam, sesungguhnya kamu telah melakukan sesuatu yang amat mungkar.
28. Hai saudara perempuan Harun, ayahmu sekali-kali bukanlah seorang yang jahat dan ibumu sekali-kali bukanlah seorang pezina”. Maryam dipanggil saudara perempuan Harun, karena ia seorang wanita yang shaleh seperti keshalehan Nabi Harun a.s.
29. maka Maryam menunjuk kepada anaknya. Mereka berkata: “Bagaimana kami akan berbicara dengan anak kecil yang masih di dalam ayunan?”
30. Berkata Isa: “Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi,
31. dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup;
32. dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka.
33. Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali.”
34. Itulah Isa putera Maryam, yang mengatakan perkataan yang benar, yang mereka berbantah-bantahan tentang kebenarannya.
35. Tidak layak bagi Allah mempunyai anak, Maha Suci Dia. Apabila Dia telah menetapkan sesuatu, maka Dia hanya berkata kepadanya: “Jadilah”, maka jadilah ia.
36. Sesungguhnya Allah adalah Tuhanku dan Tuhanmu, maka sembahIah Dia oleh kamu sekalian. Ini adalah jalan yang lurus.

Jadi ada yang berpendapat bila mengucapkan selamat natal berarti mengiyakan kelahiran Isa versi Kristen. Benarkah? Walau aku memilih tidak mengucapkan, aku berpendapat yang mengucapkan tidak lebih dari sekedar basa-basi aja...


11 comments:

Benagustian said...

Kalau saya tinggalkanlah yang ragu-ragu itu sebagai jalan tengah sebelum menemukan jawaban yang pasti, jadi terlepas boleh atau tidak ya kita memilih untuk tidak melakukan [mengucapkannya].. kan aman tuh.. :))

ristin said...

Salam kenal mbak.. Benar kata mbak.. Saya termasuk yg ikut mengucapkan, tapi itu hanya basa - basi, hanya toleransi dalam beragama, karena indonesia ini kan agamanya gak cuma 1, jadi buat menghormati antar umat beragama saja... :)

Anonymous said...

Kalau saya sih mengucapkan saja tidak masalah, prinsipnya begini ...kalau orang yang kita beri selamat itu senang menerimanya harusnya malah dapat pahala kan? Yang penting ngga masuk ke gereja, ikut misa atau ritual lainnya...jadi kenapa harus selalu ribut untuk masalah yang tidak mendasar...misalnya bisa mengubah aqidah seseorang

Ghassan Syaqiq Al- Balkh said...

Baca di ghas-san.com

MUTLAK HARAM!

BlogS of Hariyanto said...

benar..saya setuju bahwa ucapan itu hanya sekedar basa-basi saja...dan takkan merusak akidah kita :)

Hendra Hacc said...

Asal jangan kita ikut2an merayakannya saja lah.

Claude C Kenni said...

Kalo suatu hari Vatikan mengeluarkan pernyataan bahwa umat Kristiani tidak boleh mengucapkan "Selamat Idul Fitri" kepada umat muslim, dengan alasan apapun, gua sih ga akan ngikutin.

Setau gua, inti dari semua agama tuh cinta kasih, jadi buat gua sih ga perlu ribet. Fatwa, aturan, deklarasi, apapun itu namanya, itu karya manusia, sementara hati nurani adalah ciptaan Tuhan YME. Ironisnya, jaman sekarang manusia malah terikat sama hal2 yg sifatnya duniawi, bukan rohani.

Ya udah deh gpp, terserah MUI mau ngomong apa, terserah orang mau ngikutin apapun. Dari seorang sahabat kepada sahabat lainnya, gua mau ngucapin semoga damai dan kasih Natal memberkati temen2 semua dan juga keluarga, ga peduli apapun agamanya =)

Ajeng Sari Rahayu said...

masa sih mbak kalau kita ngucapin selamat natal yg non-muslimnya " seneng" (ya iyalah seneng) tapi seneng gimana dulu (hati siapa yg tahu sih isinya)...kalau saya mikirnya ga sampe seribet itu, lbh setuju pdpt Njenengan yg di awal, sbgai wujud toleransi. lagian saya ga mau ikut2an org ngucapin selamat natal. mungkin lbh milih diam aja, dilihat2 deh ama situasi dan kondisi-saya punya tetangga non-muslim (pas dia lg ngrayain natal seperti skrg, saya ga ngucapin selamat natal diapun demikian pas saya ngrayain Idul Fitri kemarin jg ga ngucapin slmt lebaran) jd emg dilihat2 ama situasi, dan kondisi seperti yg sdh saya bilang tadi... kalau mmg diperlukan ya pasti terucap, tapi balik lg ke niat hehe :)


seru2, diblognya mas Ndop td bahasnya gitu, trus di sini bahasnya gini

Sam Rinaldy said...

Kalau saya mengucapkan buat agama yang bersangkutan. Hanya sekedar mengucapkan. Dan saya tidak merayakannya kok (^ ^.

Sama kayak orang kristiani, kalau kita idul fitri. mereka mengucapkan selamat, tapi tidak merayakan (^ ^. Hanya sebagai tanda toleransi aja (^ ^

Enny Law said...

blogwalking :P
wew, aku sih lebih suka gak mengucapkan.
tapi manusia emank beda - beda pendapat..
aku lebih suka cari aman dengan tidak mengucapkannya,
karena walau orang pikir itu sekedar basa basi, menurutku itu sebuah kemungkaran..


Muhammad itu adalah utusan Allah
dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah
keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka..........

QS 48:29

Anonymous said...

Saya sebagai umat Kristiani, bagi saya orang islam mau ngucapin atau gak, gak ada masalah dan gak penting. Soalnya mau balas jawabnya juga bingung, karena orang islam tidak natalan paling bilang thanks. Begitu juga sebaliknya kalau idul fitri, saya hanya ngucapin ke teman2 saya yg muslim yg dekat2 aja yg bisa saling menghargai.