Tuesday, January 15, 2013

Mensyukuri yang dimiliki, bukan meratapi yang belum dimiliki

Menurutku empat tahun terakhir memang benar-benar luar biasa (buatku sih). Kayak naik roller coaster. Perasaanku naik turun dengan banyak kejadian heboh, tidak secara fisik tapi perasaan.

Aku cerita sama temanku gini kemarin. Sebelum 2009 aku hanyalah orang yang hanya memikirkan baju dan makanan. Rumahku yang diwasiatkan almarhum Bapak menjadi tabungan akhirat belum sepenuhnya aku pahami. Alhamdulillah aku mulai memahami maksud almarhum Bapak sekarang.

Kadang aku merasakan apa yang dibaca oleh Bapak, buku-buku yang beliau pelajari dan lalu aku baca, setelah beliau meninggal aku jadi mudah lebih tahu. Saat aku belajar tentang Al Qur'an, membaca kisah Nabi-Nabi, hikmah dari semua kisah Nabi membuatku hatiku bergetar tidak karuan. Seperti melihat langsung kisahnya, begitu mengena di hati.

Dulu sih baca bolak-balik Al Qur'an, kisah Nabi, hadits, sama sekali tidak tersentuh. Selama 4 tahun terakhir  kisah Nabi, hikmah, dan pemahaman Al Qur'an bisa begitu merasuk dalam hati.

Sobatku dari Canada, seorang keturunan Pakistan, yang menganut paham salafy, sempat menasehati aku bagaimana caranya mengatasi kegalauan. Dia sendiri galau, soalnya dia bilang harusnya aku gak boleh ngobrol sama kamu, aku laki-laki bergaulnya sama laki-laki, dan kamu perempuan bergaulnya sama perempuan. Dia menyarankan aku pakai gamis lebar panjang, karena seperti itu sesuai syariah Islam. Sementara aku berpendapat lain. Aku cenderung memperbaiki akhlak, menggunakan baju yang diterima lingkungan selama masih dianggap sopan. Kerudung bukan jaminan seorang mempunyai akhlak yang baik. Proses dimulai dari memperbaiki akhlak, dan seseorang muslim yang mempunyai akhlak yang baik akhirnya akan menggunakan kerudung tanpa paksaan, dan baju yang tidak ketat atau transparan untuk menjadi pusat perhatian. Jadi aku lebih menghargai wanita tanpa kerudung yang bajunya tidak ketat dengan akhlak yang baik, dibanding wanita berbaju muslim ketat tidak berusaha memperbaiki akhlaknya. Saatnya tiba, kesadaran menggunakan baju muslim sesuai syariah akan lebih dipahami wanita dengan akhlak yang baik. Dan tidak perlu berlebihan dengan gamis super lebar, tebal, karena perlu berbaur dengan budaya Indonesia.

Hidup adalah proses. Kebahagiaan dalam hati didapat dengan rajin bersyukur, pasti banyak hal yang bisa disyukuri dalam hidup, dimulai dari kesehatan, masih bisa makan, memiliki rumah. Tidak bisa dipungkiri bahwa kita pasti masih menginginkan sesuatu dalam hidup. Misalnya yang belum punya pacar pengen punya. Begitu punya pacar bawaannya galau, soalnya sudah kadung punya keterlibatan emosi pacarnya ngaturan banget, cemburuan banget, dan pembosan, ketauan beberapa kali jalan sama lawan jenis yang lain dengan alasan begini begitu... hehehe.

Atau waktu SMA pengen kuliah. Abis kuliah pengen kerja. Abis kerja pengen nikah... eh... gak dapat jodoh juga. Atau kerjaan tidak sesuai dengan hati, punya bos ngeselin, jarak terlalu jauh, gaji pas-pasan gak naik-naik. Atau juga setelah nikah gak dapat punya anak sampai gelisah...

Dulu aku berpikir hidup itu membosankan. Siapa sih bikin aturan mesti sekolah, kuliah, kerja, nikah, punya anak, kayak diprogram begitu aja kayak robot. Tapi pemrograman bukan hanya sekedar sekolah, dan seterusnya... hidup itu adalah untuk survive. Tidak hanya di dunia tapi juga ke akhirat. Siapa bisa mandiri, mempunyai harga diri dengan bekerja tidak meminta-minta uang pada manusia lain, lalu yang mampu selalu berusaha menolong orang lain sesuai dengan kemampuannya.

Gemerlap dunia memang membuat orang sibuk mendengarkan lagu cinta, nonton sinetron cinta, semuanya berkaitan dengan lawan jenis... sampai lupa dengan cinta pada Allah dan Rasul. Sementara yang mempelajari Islam banyak yang hanya teori, sibuk memamerkan ilmu lupa untuk membantu orang lain dan tidak menyakiti hati orang lain. Yang survive sampai akhirat hanya mereka yang baik hati dan tidak sombong. Tidak perlu kaya raya, tapi kecukupan. Tidak perlu populer, yang penting hatinya lembut suka membantu orang lain. Tidak perlu berlebihan dengan cinta pada sesama manusia, cinta pada Allah dan Rasul lebih penting.

Jalan menuju surga itu banyak. Tapi jalan menuju neraka lebih banyak lagi. Dan semakin banyak setan berwujud manusia yang mesti dihindari, bahkan kadang berwujud manusia alim dengan ilmu kebijaksanaan yang sepertinya hebat, gak taunya tipu daya setan belaka.

Tentunya aku juga masih banyak kekurangan dalam memaknai hidup ini. Tapi paling tidak sudah mengerti dan berusaha menuju untuk bisa selalu hidup untuk mencari ridho Allah. Mensyukuri yang aku miliki jauh lebih penting daripada sibuk meratapi yang belum dimiliki, perasaan nyaman, dan memaksimalkan potensi untuk selalu menjadi lebih baik...

6 comments:

Ratnawati Utami said...

Renungan pribadi, tidak dilink kemana-mana

muxlimo said...

Dari judulnya aja udah tau ini tulisan yang "bening", Mbak ^_^

Yudi Darmawan said...

apa yang sudah diberikan, itulah yang kita butuhkan, agar kita pandai bersyukur..

Anonymous said...

Kalau sudah mensyukuri, kiranya tidak ada tempat lagi buat meratapi. Demikian pula sebaliknya, setuju?

anotherorion said...

membiasakan diri bersyukur membuka pintu rejeki mbak :)

BlogS of Hariyanto said...

syukur..adalah satu kata yang merupakan kunci dari ketenangan dan kedamaian hidup ...thats it :)