Thursday, January 31, 2013

Pengen mati atau pengen hidup

Islam mengajarkan untuk tawakkal, bertakwa. Orang yang bertakwa itu sudah bisa meresapi makna-makna dari pemahaman Islam dan mengamalkan. Jadi seseorang yang tawakkal dan bertakwa akan mendapat rejeki tak disangka, jalan keluar. Maksud dari tawakkal adalah berikhtiar sekuat tenaga lalu menyerahkan semuanya pada Allah.

Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar.Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. (QS Ath Thalaaq : 2-3)

Sedang manusia beriman akan selalu bersikap sabar dan bersyukur. Tidak pernah berputus asa, hatinya tenang, selalu bersabar dan penuh syukur akan semua yang dimiliknya walaupun menghadapi banyak cobaan hidup.

Rasulullah SAW bersabda,"Sungguh beruntung orang yang beriman, karena segala perkara adalah kebajikan. Jika dia mendapatkan kenikmatan, dia bersyukur (dia mendapat pahala kebajikan) dan jika dia ditimpa musibah, dia sabar (dia mendapat pahala kebajikan juga)." (HR. Muslim)

Ada seorang kenalan baruku cerita, bahwa istrinya meninggal dunia akhir tahun lalu. Dia selalu menekankan bahwa istrinya seorang sholehah. Istrinya meninggal tanpa menderita, prosesnya cepat. Dia juga bilang betapa istrinya sangat memanjakan dia dan anak-anaknya. Masalahnya ada ceritanya yang sangat menggangguku, dia cerita almarhumah istrinya tidak mau ke dokter untuk mengobati penyakit darah tinggi dan tidak mau menjaga makan. Aku saja yang tidak menderita penyakit berat sangat menjaga makanan yang aku konsumsi. Bukan seorang penggemar wisata kuliner, makan secukupnya dan selalu di syukuri.

Aku pernah berjualan herbal, dan mendapat beberapa e-mail tentang kegelisahan orang-orang yang menderita penyakit dan keinginan mereka untuk sembuh, apapun akan dilakukan. Jadi aku sangat menyesalkan seseorang yang menyadari bahwa dia sakit tapi tidak mau berobat dan jaga makan padahal punya anak-anak kecil APAPUN ALASANNYA. Aku menganggap orang seperti itu sama saja dengan bunuh diri pelan-pelan.

Bila melihat obrolan orang dengan indra ke-6 di tivi, mereka cerita bahwa orang yang bunuh diri itu alam kubur menolak rohnya dan dia gentayangan di alam ini. Banyak pendapat yang berlainan mengenai hal ini. Ada yang berpendapat bahwa orang bunuh diri itu adalah orang yang berputus asa akan rahmat Allah, dan akan mendapat siksa kubur. Jadi orang bunuh diri tidak akan gentayangan tapi kuburannya dipersempit dan mendapat siksa kubur yang menyakitkan. Aku hanya bisa mengatakan wallahu 'alam bisshawab.

Bagaimana bila ada orang yang sakit darah tinggi, dilarang makan garam tapi tetap mengkonsumsi garam seenaknya. Apa yang ada di benaknya "toh bentar lagi aku akan mati jadi aku ingin menyenangkan diriku". Sebelum meninggal dia mengunjungi keluarganya dan banyak meminta maaf. Entah yang dilakukan sadar atau tidak, tapi sepertinya dia sudah merasa akan meninggal dunia, dan berputus asa tidak mau melakukan ikhtiar. Tidak mau ke dokter dan menjaga makan.

Contoh orang yang bisa survive dari vonis doketer adalah almarhum bapakku. Almarhum bapakku sejak tahun 1990an divonis meninggal dunia beberapa tahun lagi karena diabetes sudah sampai taraf menyuntik diri dengan insulin. Beliau meninggal dunia akhir 2008, berpuluh-puluh tahun dari vonis dokter karena perjuangan beliau dengan obat-obatan ASKES dan menjaga makan. Beliau meninggal tanpa menderita lama saat sholat Shubuh. Pak Amien Rais menyempatkan datang saat menjelang penguburan dan menyampaikan bahwa In shaa Allah dari ciri-ciri meninggalnya beliau meninggal khusnul khotimah, atau akhir yang baik.

Sampai saat aku menuliskan artikel ini, sang suami masih suka terbayang-bayang mantan istrinya, masih suka menangis. Bila belajar Islam, secara logika dia tahu bahwa istri hanyalah titipan dari Allah dan seharusnya barang pinjaman dikembalikan lagi. Innalillahi wa inna ilaihi roji'un. Segala sesuatu berasal dari Allah dan akan kembali kepada Allah. Tapi kadang logika memang tidak sinkron dengan batin. Logika bilang "jangan sedih, ikhlaskan", tapi hati yang sebagian ada yang direnggut secara paksa sehingga menyakitkan membuat air mata meleleh tanpa bisa dikontrol.

Apakah dia sadar bahwa istrinya sebetulnya melakukan kecerobohan fatal, dengan mengkonsumsi hal-hal yang memperburuk sakitnya.  Definisi sholehah yang ditujukan untuk wanita yang beriman dan bertakwa apakah pantas ditujukan pada seseorang yang membunuh dirinya secara pelan-pelan, yang mengikuti bujukan setan untuk merusak dirinya sendiri? Sungguh sulit definisi wanita sholehah itu. Dan suami mesti belajar dari itu semua apa sebetulnya yang dipahami tentang iman dan takwa bila ingin mendidik anaknya menjadi anak yang sholeh.

Semua orang boleh mengirimkan surat Al Fathihah pada almarhumah. Tapi hanya do'a anak sholeh yang akan menaikkan derajatnya bahkan setelah meninggal. Sang suami semestinya menunjukkan contoh bagaimana cara menjadi sholeh, mengajarkan pada anaknya, supaya bisa menaikkan derajat istrinya yang sudah almarhum. Derajat apa yang dimaksud, masih banyak pendapat. Ada yang berpendapat bila anaknya di surga, bila berdo'a pada Allah, orang tua yang di neraka bisa dinaikkan ke surga.

Kenapa sih ribut masalah surga dan neraka? Bukannya para sufi mengharap ridho Allah gak mikirin surga neraka. Paling tidak kita berusaha memperjuangkan diri untuk mendekatkan diri dengan Allah, menghindari api neraka. Do'a yang paling sering kubaca adalah "Robbana attina fidunya hasanah, wa fil akhirati hasanah, wa qina adza bannar". Ya Allah, berilah aku kebaikan dunia, berikan aku kebaikan di akhirat, dan hindarkan dari api neraka.

Manusia tawakkal dan bertakwa akan berjuang sampai titik darah penghabisan. Bekerja seakan hidup selamanya. Beribadah seakan mati besok. Islam mengajarkan untuk bersyukur, optimis, bekerja keras, dan menyerahkan segala sesuatunya pada Allah...

Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih (QS. Ibrahim : 7)

5 comments:

arya-devi said...

Alhamdulillah, walau sy tengah berenang di lumpur...tapi masih ada peluang....Alhamdulillah

Ratnawati Utami said...

aku mules berat abis posting ini. Aku dihantui setan yang sukses membujuk istri bunuh diri pelan-pelan, karena keinginan bunuh diri adalah bujukan dari setan. Semoga Allah memberikan hidayah pada keluarga ini. Untuk mencerahkan rumah ini semoga suami rajin mengadakan pengajian pembacaan ayat Qur'an dan pemahaman dari tafsir

Anonymous said...

Sakit, jika sabar, Insya Allah jadi penghapus dosa. Tidak ada kejadian yang sia-sia.

Ratnawati Utami said...

@Anonymous, yang dimaksud sabar bukan berarti berdiam diri atau diam saja, tetap berikhtiar.

Islam bukan hanya sekedar sholat saja, tapi memahami tafsir Al Qur'an dan menjalankan dalam kehidupan sehari-hari.

Yang berhak menentukan siapa yang sholeh/sholeha hanya Allah, karena perlu perjuangan untuk itu.

Pengorbanan ditujukan hanya pada Allah, sungguh keliru kalau pengorbanan itu demi pacar, demi suami, demi anak-anak.

Dan kita sebagai manusia berhak merasakan kebahagiaan lahir batin dunia akhirat. Aku pernah di pengaruhi orang kalo pengen masuk surga mesti menderita di dunia, gak sepenuhnya benar. Kemampuan bersabar akan membuat hidup jadi lebih mudah, tenang, walau dalam badai...

Ratnawati Utami said...

Suami dan istri seharusnya saling memotivasi. Kalo istri sakit suami memotivasi agar berjuang untuk sembuh. Kalo suami di PHK, istri memotivasi agar tetap bertahan survive.

Apa karena suami mengeluh terus sampai istrinya gak mau hidup lagi.

Bikin mules aja sama cerita complicated gini. Aura penuh keputus-asaan, mengorbankan diri demi anak.

Harusnya pengorbanan ditujukan pada Allah.

Semoga Allah menunjukkan jalan yang benar...