Saturday, February 2, 2013

Ditujukan hanya pada Allah

Meneruskan tulisanku kemarin, soal pengen mati dan pengen hidup, aku teringat ada kisah seorang pelacur yang memberi minum anjing. Karena pelacur ini menyelamatkan nyawa seekor anjing, Allah ridho pada perbuatannya sehingga masuk surga. Tapi ada penjelasan terusannya, karena tidak sembarang pelacur bisa masuk surga. Terusannya adalah pelacur ini melacur karena ketidak tahuannya, dan dia memberi minum anjing setelah bertaubat.

Bertaubat sendiri ada aturannya, penyesalan mendalam, tidak mengulangi perbuatannya, mengembalikan yang bukan haknya, dan merubah perilakunya secara keseluruhan. Jadi bukan sekedar teriak "Tobat, tobat!!!". Kalau sudah bertaubat lalu mengulang maksiat kata grup band Wali namanya TOMAT atau TObat MAksiaT. TOMAT adalah pertaubatan yang tidak diterima Allah.

Pengorbanan seseorang seharusnya ditujukan pada Allah. Seperti halnya sedekah itu seharusnya ikhlas, diniatkan dengan menyebut nama Allah, semakin sedikit yang tau semakin baik, dan setelah pemberian itu tidak dibahas lagi.

Pengorbanan atas nama cinta...??? Cinta sama siapa...??? Paling mudah itu memang berkorban buat kekasih hati, masalahnya tidak dapat pahala sama sekali bila tidak diniatkan untuk Allah. Malah cenderung pamrih. kalo ada cowok mengorbankan uang kiriman ortu supaya bisa traktir cewek gebetannya, serius itu ikhlas atau ada maunya coba. Coba kalo cewek gebetan gak kasih respon, pasti dia sakit hati sudah sering traktir, kadang suka diitung nraktir kemana aja... hehehe... sama sekali tidak ikhlas.

Berkorban untuk anaknya, misalnya lagi. Ya sudah, ortu gak makan yang penting anak bisa makan. Itu hanya dalam kondisi darurat tentu saja. Alhamdulillah aku belum pernah dalam kondisi seperti itu. Tapi aku pernah dalam keadaan sangat sulit, tinggal di rumah mertua dan ada perubahan tiba-tiba mertua memutuskan tidak membolehkan aku makan di situ, alasannya aku gak nyumbang belanja. Tapi Alhamdulillah, tiba-tiba sepupuku mengajakku untuk belajar tafsir Al Qur'an, walau masih terbata-bata dalam pengertiannya, ada aja yang membantu dari pihak keluargaku. Ya kakakku, almarhum bapak dan omku. Aku masak mencari yang paling terjangkau, aku beli tulang ayam di supermarket Jogja di Bogor sekilonya 6 ribu kalo gak salah untuk bikin sop untuk anakku kembar. Aku gak pernah mikir diriku sendiri, gak punya baju banyak, minta bantuan baju bekas pakai dari kakak-kakakku.

Pemahaman apakah itu membuka aib apabila kita membicarakan kekurangan suami misalnya. Dalam kondisi darurat, kita berdo'a pada Allah, dan meminta bantuan pada yang kita percayai tentunya dimulai pada keluarga sendiri. Karena sahabat, teman biasanya cuman baik kalo kita punya uang, jalan-jalan, makan-makan. Begitu dalam keadaan terpuruk sahabat akan sibuk dan melupakan kita. Lagian siapa sih yang pedhe muncul ke reuni dalam keadaan gembel, gak punya apa-apa yang bisa dibanggakan?

Dalam keadaan terdesak kita perlu meminta bantuan pada orang lain, terutama saudara yang kita percayai. Waktu aku ultah di bulan Mei 2009, aku bilang ke kakakku, bahwa aku sudah sangat depresi, gemetaran, ketakutan, dengan perilaku mantan dan keluarga besarnya. Aku tahu, mereka bersikap aneh karena usaha keluarga menggunakan guru spiritual, masang jimat sana sini. Uang haram lama-lama menutup hati mereka. Gak peduli pakai jilbab dan sholat 5 waktu, kalo yang dikonsumsi uang panas, sama saja mereka menyembah iblis.

Di tulisanku sebelumnya, gimana kalo seorang ibu memutuskan tidak mau berobat karena berkorban demi anaknya. Yang jadi masalah, apakah dia berusaha meminta pertolongan pada Allah atau tidak? Seperti pada surat Al Fathihah "Hanya kepadaMu kami menyembah dan hanya kepadaMu kami memohon pertolongan". Bila sholat tanpa memahami bacaan yang kita baca akhirnya memang sholat itu hanya menggugurkan kewajiban, bukan sholat dengan ikhlas. Tidak perlu malu untuk menerima bentuan bila saat membutuhkan, karena bantuan itu datangnya dari Allah. Dan saatnya bila sudah bisa membantu orang, bantulah orang lain.

Pemahaman-pemahaman yang keliru dalam Islam. Seorang suami yang terlalu cinta sama almarhum istrinya sampai selalu cerita dia nangis karena istrinya begitu baik dan sholehah. Menurutku, istri hanya titipan dari Allah, ada saatnya dia mesti melepaskan bayang-bayang istrinya. Atau saat cerita istrinya tidak minum obat demi anak-anaknya. Berobat itu ikhtiar dan itu hukumnya wajib bila bisa membuatnya meninggal, kecuali kalo panuan beda kasusnya. Yang namanya wajib itu kalau tidak dilakukan berdosa. Terus ada komentar sakit kalo sabar menghapus dosa, iya jawabku makna sabar adalah melakukan ikhtiar, bukannya tidak melakukan apa-apa. Terus salahnya dimana... cinta itu jangan melebihi cinta pada Allah dan Rasul. Jadinya ya begitu, entah sampai kapan "hantu istrinya" akan mendampingi. Sebetulnya bukan hantu istrinya, tapi itu tipu daya setan yang selalu menampakkan diri berwujud seperti almarhumah istri supaya lupa untuk lebih mencintai Allah dan Rasul dibanding cinta pada manusia.

Apakah perlu orang tua berkorban demi anak. Aku mati tidak apa-apa yang penting anakku hidup, kenapa tidak berpikir aku pengen hidup lebih lama supaya ada yang merawat anak-anakku. Atau berpikir aku bersedih tidak apa-apa yang penting anakku bahagia, bagaimana kalau berpikirnya dirubah, aku ingin bahagia supaya anakku merasa nyaman bila dekat denganku.

Itulah kalau orang lebih mencintai manusia dibanding mencintai Allah dan Rasul. Siap mati asalkan yang dicintai tetap hidup. Ada cerita seorang berperang gagah berani bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Tapi sabda Rasululluah shallallahu 'alaihi wa sallam orang ini masuk neraka, kenapa, karena berperang hanya ingin mendapat julukan pemberani bukan ditujukan pada Allah.

Sesungguhnya Shalatku, Ibadahku, Hidupku dan Matiku hanya untuk Allah semata (QS. Al An'aam : 162)

6 comments:

BlogS of Hariyanto said...

sesungguhnya semua yang ada di alam raya maha luas ini adalah kepunyaan ALLAH SWT, termasuk kita manusia sebagai salah satu mahluk ciptaan-NYA.
Jadi sebagai wujud bahwa kita hanya sujud, bertakwa dan beribadah hanya kepada ALLAH semata..maka setiap melakukan segala sesuatu dalam kehidupan ini kita harus melakukan karena ALLAH semata...tak ada yang lain....dan jadikanlah aktifitas kehidupan itu sebagai aktifitas ibadah yang diridhoi dan diberkati ALLAH.
caranya mudah sekali...hanya dengan membaca basmalah.. sebelum melakukan aktifitas......salam :)

Ratnawati Utami said...

@Hariyanto, ini pelajaran Tauhid. Banyak yang kita lihat orang pemberani, pandai, alim. Sebetulnya ingin dipuji orang lain atau ditujukan pada Allah. Kalo hanya ingin pujian namanya riya', sudah capek-capek berjuang bukan pahala yang kita dapat malah dosa karena keinginan dan niat yang keliru

jiah al jafara said...

harusnya memang semua karena Allah, dan yg jelas kita harus berfikir positif bukan melakukan "Demi"

Ratnawati Utami said...

@Jiah... cinta memang membuat buta, buta akan asal usul kita kenapa diciptakan. Insya Allah bila Allah ridho dengan kita akan dimudahkan hidup kita, dan kita bisa menghadapi hidup penuh dengan rasa syukur

aryadevi media belajar siswa said...

membaca pada bagian pertama, jadi sering mendengar beberapa kelompok islam yang sering bertanya:mana dalilnya, apa dalilnya?..pada setiap kegiatan ibadah, ketika mengkritisi umat islam lain.
Hubungannya dengan kisah "pelacur tsb"...yaa kita sebaiknya sebelum bertanya atau menjawab satu kasus dalam kegiatan ibadah hendaknya mesti cukup ilmu dulu, memahami lebih dalam tentang suatu prinsip ilmu...jadi tidak jadi bahan tertawaan pihak lain jika dalam bertanya pun sudah salah, apalagi nanti dalam menjawabnya.
Jangan memahami sepotong2 dalam suatu riwayat hadist atau ayat Qur'an....
terimakasih bu.....

Ratnawati Utami said...

ini memang luapan uneg-uneg; berbau emosi soalnya beberapa kali setan itu menampakkan taringnya saat membisikkan ke orang-orang.

Soal pelacur itu kisahnya saya ambil dari notes di Facebook ustad Yusuf Mansyur network.

Ada pertengkaran di sini, cara berpikir seseorang yang ingin ,menikah demi membahagiakan anaknya. Dan dia sendiri masih dibayang-bayangi almarhumah istrinya yang dipuji setinggi langit, rela tidak makan demi anaknya padahal fisiknya sakit.

Soal sholehah atau bukan itu hanya Allah yang tau, tapi paling tidak suami mesti belajar untuk memelihara anaknya lebih baik.

Jangan diulangi lagi rela menderita, tidak makan, tidak berobat demi anaknya.

Dan bila menikah lagi karena ingin anaknya diurusi oleh istri baru, sebaiknya menikah dengan baby sitter saja. Kondisi menikahi wanita yang penting mau mengurusi anak perkembangangannya rawan selingkuh saat menemukan wanita yang lebih cocok dibanding "baby sitter".

Berpikir jauh ke depan dan kita berhak bahagia dunia akhirat