Wednesday, March 20, 2013

Aku tidak relijius dan aku bangga

Ngobrol dengan muslim di berbagai belahan dunia membuatku sadar, bahwa keturunan Arab yang bisa berbahasa Arab ternyata banyak yang hatinya mati. Islam bukan untuk diamalkan, tapi hanya sekedar tradisi, dan jiwanya memberontak untuk menyimpang dari ajaran Islam.

Terakhir ketemu orang India yang bisa membaca latar belakang seseorang dari melihat matanya. Aku pernah tulis, dan ini pendapatnya tentang aku

Dear, Amazing personality. You have a very rough past but you enjoyed many things that you may not do now. You were in love maybe twice. When you were growing up something happened that is impacting you even now. You are highly expressive person in public as well as in private. Lately, it is becoming hard for people to change your views on certain things.

You have been struggling emotionally in the past and now physically in last few years. Great heart but unfortunately people do not see it and they have tough time understanding you. You do not have a third eye but you have learn so much in life to know who is fake and whose intentions are pure. However, in this process you go very extreme and sometime miss the real person behind the scene. How did i do?

Pada pembicaraan seterusnya, dia menyatakan bahwa dia tidak relijius dan dia bangga dengan hal itu. Kalimat itu diucapkan terus, aku sampe kesel dan aku remove, ignore di YM.

Kenapa bisa tidak relijius tapi bangga, karena HATI yang MATI. Dia merasa kuat dengan kekuatannya sendiri, kemungkinan besar berasal dari setan, dan melecehkan orang yang relijius. Sedangkan HATI yang SAKIT punya dua sisi kehidupan, kadang menonjolkan duniawi, kadang relijius. Barangkali merasa sisi relijiusnya menyelamatkan sisi duniawinya, seperti berpakaian seksi, atau bermaksiat. Tapi yang selamat di akherat adalah HATI yang SEHAT. Berusaha untuk menjalankan perintah ajaran Islam dalam semua sendi kehidupannya.

Orang dengan hati yang sehat berusaha tidak menyakiti hati orang lain, karena itu walau bertemu dengan yang berbeda pendapat tetap bersikap tenang dan tidak memaksakan kehendak.

Seandainya ada yang bertubi-tubi menyakiti hatiku, berjanji tapi tidak menepati, paling tidak mereka mengambili dosa-dosaku. Aku manusia biasa, tidak luput dari kesalahan. walau sudah berusaha pasti juga masih sering menyakiti hati orang lain.

Ada kelompok tertentu menyatakan spiritual lebih penting dari relijius. Konon kata mereka orang dengan spiritual tinggi hatinya tenang, dengan meditasi atau apalah, tanpa melakukan ritual ajaran agama. Tentunya aku tidak setuju dengan hal itu.

Yah, sejauh ini aku berusaha menjadi manusia relijius, dan aku bangga dengan itu...

2 comments:

BlogS of Hariyanto said...

yang penting adalah selalu menjaga sikap kebaikan dalam pandangan ALLAH semata...bukan kepada pandangan siapa-siapa di dunia ini.....salam :-)

Anonymous said...

Hmmm, dibaca lewat gambar (mata) oleh orang yg tidak relijius, dan membenarkan "terawangannya" saat itu. Sekarang sudah beda persepsinya ya?