Saturday, March 30, 2013

Berkorban karena Allah

Aku bilang ke sahabatku yang sepemikiran "sulit ya nemu orang yang mengorbankan diri demi kebahagiaan orang lain". Adanya hanya orang menyenangkan diri sendiri.

Di Facebook orang mengupload foto makanan enak, jalan-jalan ke tempat wisata, atau berdandan sekeren mungkin. Bukan berarti aku gak pernah upload makanan enak, cuman, ternyata di mata Allah, makanan yang diberikan pada orang yang membutuhkan itulah yang mendapat pahala. Juga baju layak pakai lebih bermanfaat bagi yang sulit membeli baju.

Terus terang aku ill feel banget saat aku coba chat dengan orang Indonesia nanya "kamu nyari profil real muslimah, maksudnya apa". Lalu bertebaranlah kalimat selain Assalamualaikum, ada Afwan, Syukron, Jazakillah. Katanya "saya masih belajar, fakir ilmu, dhoif", dan seterusnya.

Aku jawab "aku ini orangnya ceplas ceplos apa adanya... rasanya bicaranya jadi gak to the point, aku belajar Islam, mencoba menjalankan sesuai Qur'an dan hadits". Dijawab "sudah baca kitab apa saja". Jawabku lagi "aku lulusan komputer, gak bisa baca Arab, taunya ya Al Qur'an dan hadits diberi penjelasan guruku. Cocoknya ngobrolnya ma lulusan pesantren aja. Kayaknya gak punya sense of humour deh. " jawabnya "saya sibuk mencari sesuap nasi".

Yah, mungkin ada yang suka ngobrol dengan orang gitu, kalo menurutku sih lebih langsung "oh saya di Jakarta, kerja di sini, hobinya ini, kegiatannya ini itu". Tuh kan kesabaranku suka dipermainkan oleh orang yang berusaha merendah sampai mengaku dhoif, banyak menyisipkan kata-kata lulusan pesantren, dan menggunakan bahasa metafora. Apa iya kalo ngobrol terus muteeeer aja ngomongnya, gajiku cuman cukup beli sejumput beras atau rumahku buat selonjor gak  cukup.

Kembali ke topik berkorban karena Allah. Misalnya ada cerita Imam Al Ghazali masuk surga karena menyelamatkan lalat yang nyemplung di botol tinta. Maksudnya bukan gak boleh bunuh lalat, intinya menyelamatkan jiwa karena Allah. Atau kisah-kisah lain dimana ada orang kaya meninggal dengan tenang, di punggungnya ada bekas guratan bekas memanggul bahan makanan tiap malam supaya tidak diketahui orang lain.

Ke temanku yang lain, aku cerita soal sedekah ikhlas sudah begitu populer, tapi kok masih banyak yang korupsi mengambil harta yang seharusnya untuk rakyat kecil untuk memperkaya diri sendiri. Yah, mereka yang sudah dikuasai hawa nafsu memang sudah buta matanya, disindir di semua media juga gak akan ngerasa.

Semoga kita semua kalau melakukan sesuatu karena Allah, semua, hidup, mati, dan ibadah...

5 comments:

Anonymous said...

mayyahdillahu falaa mudhillalah, wa mayyudhlilhu falaa hadiyalah, wallahu a'lam.

Ratnawati Utami said...

soal hidayah itu memang Allah berikan pada yang berhak, tidak selalu ahli agama

Ario Antoko said...

Amal amal yg terlihat kecil bisa jadi membuat Allah ridho dan memberikan syafaat-Nya

Ayra Jasmine said...

Izin share ya mba syukron ...

Ratnawati Utami said...

Ini tulisan sebetulnya gak jelas banget, kalau mau di share silakan. Gara-gara kesel ngobrol sama orang yang lupa bahasa Indonesia, sok Islami malah bikin ilfeel, gak nyambung. Sebaiknya diedit dulu ya