Wednesday, July 3, 2013

Bahagia dunia dan akhirat

Aku punya teman seorang mualaf di Kanada. Dia bilang katanya sebelum masuk Islam dia agnostik, tau ada Tuhan tapi tidak tau Tuhan yang mana. Dan tanyanya kenapa laki-laki di Islam sepertinya boleh memperlakukan istri seperti budak, tapi itu di Arab. Gak boleh pergi sendiri, bajunya tak berbentuk, dan mesti nerima kalo suaminya nikah lagi dengan yang lain. Ah, menurutku itu salah pendapatnya. Justru laki-laki Arab sangat memanjakan istri gak boleh kerja jadi dikasih pembantu (termasuk dari Indonesia), mesti diantar kalo pergi. Cuman sedikit kebablasan soalnya istri jadi makan terus makanya wanita dewasa Arab banyak yang overweight tidak seperti remajanya yang langsing.

Membahas soal agnostik, aku juga dalam pencarianku untuk lebih mengenal Allah. Keinginanku itu membawaku untuk menikah dengan seseorang. Kenalan dengan orang yang sekarang mantan suami, dia bilang "aku akan menunjukkan jalan ke surga", soalnya katanya dia seorang dengan spiritual tinggi. Tapi gak taunya versi jalan ke surga dia keliru.

Semenjak aku tinggal di sana bukannya aku diberi kasih sayang malah diperlakukan penuh kebencian. Dan mantan bilang, kalo mau masuk surga mesti menahan sakit, bersabar. Mantan bekerja di keluarga sendiri, tapi gaji hariannya hanya sebesar uang sarapan kakakknya yang bos (usaha warisan dari almarhum bapak padahal).

Uang pemberian bapakku untuk merenovasi rumahnya (rumah atas nama kakaknya) diaku haknya, termasuk anak-anakku dianggap dia yang berhak merawat. Serunya lagi, mantan ibu mertua gak bolehin aku makan masakannya waktu aku di sana. Sampai aku bertanya-tanya apa iya untuk bisa ke surga mesti merelakan kebahagiaan, bersabar saat dirampas hak milikku. Aku gak bisa mikir waktu di sana, terlalu tertekan. Sampai aku akhirnya aku pergi balik ke rumahku di Jogja.

Saat awal-awal di Jogja, aku hanya sibuk membaca do'a "Robbana attina fiddunya hasanah, wa fil akhirati hasanah waqina adza bannar". Dari kalimat itu aku mulai menyadari aku berhak untuk bahagia di dunia dan akhirat. Mantan suami yang mengaku berspiritual tinggi, akhirnya kesurupan, karena spiritualnya bukan mengarah ke Allah, tapi ke Iblis. Kesimpulanku hubungannya dengan Tuhan adalah Tuhan yang keliru, termasuk keluarganya yang tega selalu menyakiti hatiku.

Bukannya aku menyalahkan kalo keluarganya masuk ke ormas yang melakukan tahlilan kalo ada yang meninggal dan yasinan kalo pengajian. Aku yakin ada pengikut ormas ini memperlakukan keluarga, menantu, istri dengan baik. Tapi kebetulan keluarga ini cuman sibuk dengan ritual-ritual yang cenderung syrik. Punya guru spiritual lagi. Sikapku yang tidak setuju dengan ritual-ritual membuatku dikucilkan, diperlakukan tidak wajar. Dan biasa, orang kalo udah kecanduan ritual syrik gak akan sadar mereka jahatin orang lain, taunya cuman terusik ingin membunuh jiwa orang yang berbeda pandangan, itu sudah naluri jahat mereka muncul tanpa mereka sadari.

Ada beberapa teman menyarankan curhat hanya pada Allah, gak usah ditulis di blog. Tapi ada beberapa e-mail menyatakan mereka punya pengalaman hidup yang mirip dan tanya mesti berbuat apa. Kalau memang benar-benar teraniaya sebaiknya hijrah dan memulai hidup baru. Tapi kalau masih sanggup, perbaiki diri dan banyak minta pada Allah.

Kesabaran itu tanpa batas. Kalau seandainya akhirnya tidak sanggup bersabar, minta terus pada Allah dan banyak membantu orang lain semampu kita. Karena membantu orang lain yang membutuhkan, maka Allah akan memudahkan urusan kita juga. Bahagia dunia akhirat bukan berarti tidak punya masalah, tapi bisa menyelesaikan masalah dengan tenang, kejahatan dibalas dengan kebaikan.

Pada akhirnya manusia akan mempertanggungjawabkan kejahatan yang dia lakukan di dunia, bukan berarti karena Allah tidak sayang pada manusia. Allah adalah Maha Pengasih dan Maha Penyayang dan hanya orang beriman yang akan merasakan kasih sayang Allah. Petunjuk sudah diberikan melalui Al Qur'an dan Sunah. Teguran sudah diberikan oleh orang-orang sekitar. Tapi kalo mata hati tertutup memang sudah sulit. Mereka mesti melalui tinggal di neraka menemani Iblis yang mereka ikutin dan disembah.

Hanya manusia beriman yang berhak untuk merasakan kebahagiaan di surga. Hidup di dunia hanya sementara saja, gak usah dianggap serius, benar-benar ibarat panggung sandiwara. Ikuti qadha dan qodar sebagai manusia beriman yang punya hati nurani. Bisa membedakan mana manusia yang di dahinya tertulis Ka Fa Ro dan manusia beriman. Walaupun dari luar wanitanya pake jilbab lebar, laki-laki pake surban dan fasih mengutip ayat Qur'an sekalipun. Karena manusia beriman punya hati nurani, mudah tersentuh penderitaan orang lain dan berusaha mendekatkan diri pada Allah dengan cara sesuai Qur'an dan Hadits bukan dengan ritual-ritual syrik. Manusia beriman berhak atas kebahagiaan dunia dan akhirat, itu janji Allah pada manusia beriman dan bertakwa...

3 comments:

BlogS Of Hariyanto said...

semoga menemukan jalan kebenaran demi pencapaian kebahagiaan dunia dan akhirat ya ...salam :-)

r10 said...

bahagia dunia dan akhirat aku juga ingin mbak

*di yogya aku cuma sebentar, di alun2 saja cuma dari jam 7 malam-jam 10 malam terus pulang

**dipantai depok tiba jam 9 pagi, pulang jam 5 sore, cuma makan sama foto2 doang he he

***bus mogok membuat jadwal di yogya 2 hari, menjadi 12 jam saja

pUTRI said...

Dear mbak Ami....
I have read your story about your "Devil Family" several time from your last story.....
Please, I suggest : Forgive them...Ikhlaskan...lepaskan "Duri" yang menusuk jantungmu.....Ikhlas..ikhlas...ikhlas...lahir dan batin..Insyallah hati mbak Amie jadi lebih nyaman.
Memang mudah bagi kita menasehati untuk ikhlas....tapi percayalah..itu satu satunya obat dari ALLAH SWT....