Monday, June 10, 2013

Mudahnya bilang supaya sabar

Untuk mengatasi masalah menurut Islam adalah dengan sabar. Setiap kali kita dicurhati orang yang lagi sedih banget karena banyak masalah pasti kalimat pertama adalah sabar, sudah klise. Kadang orang yang kita nasehatin komentarnya "gampang banget ya kamu bilang sabar".

Bukan berarti aku tidak punya masalah, aku juga punya masalah. Kadang juga kalau tekanannya terlalu berat tanpa disadari air mata akan menetes. Katakanlah ada bagian tubuh yang terluka dan kita mesti menahan nyeri, air mata menetes sendiri tanpa bisa ditahan. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam juga pernah menangis, tapi tidak sampai histeris dan berlarut-larut.

Ada temanku laki-laki yang sudah melewati kepala 3 tapi belum nikah suka cerita "aku kalo pas weekend jadi suka ngaco, males-malesan, nonton film jorok, tapi hari biasa nggak gitu-gitu amat kok". Aku jawab "kalo pas hari kerja kamu jadi beradab pas weekend jadi biadab gitu, bagusnya kamu nikah aja". Katanya "aku belum nemu yang pas, kamu tau aku gimana orangnya". Aku jawab lagi "kamu itu beruntung, punya orang tua, punya pekerjaan, kelemahanmu gagap di depan cewek. Cuman kamu bisanya ngomong sama aku, soalnya tanpa ngomong aku juga ngerti banget soal kamu, kita teman baik. Coba dong pas weekend ke fitness, ngobrol sama cewek pelan-pelan, gak mau mulai sih". Terus ya udah, kayaknya dia gak mau ngerubah kebiasaannya.

Pernah suatu ketika dia bilang "aku gak bisa ngontrol nih, sumpek banget otakku". Aku bilang "sabar dong". Jawabnya "gampang banget sih kamu bilang sabar, susah ngilangin sumpek, tau"...

SABAR itu punya makna mendalam memang, butuh PENEMPAAN supaya kita bisa sabar. Pemahamanku soal sabar juga tidak langsung ngerti. Tiga tahun lalu aku suka ngurung di kamar sambil nangis sampai matanya sembab, dan berpikir, kenapa hidupku begitu sulit. Lalu aku melihat diriku sendiri, aku tinggal di rumah yang layak, masih bisa beli baju, beli makanan, punya pekerjaan, punya tabungan, semua hal yang masih bisa disyukuri.

Tapi perkembangan waktu akhirnya kita punya keinginan-keinginan lebih. Pengen punya mobil sendiri, pengen rumah sendiri, pengen punya pasangan yang sayang sama kita. Obsesi orang memang berbeda-beda,  kasus ekstrim ada yang terobsesi punya wajah kayak Barbie sampai dioperasi plastik berkali-kali. Atau wanita Iran yang terobsesi merubah hidung betetnya dengan operasi jadi lebih langsing dan mendongak ke atas.

Mudah bilang "nikmati proses" seperti bilang "sabar". Orang yang tidak punya uang membayangkan kalau punya uang pasti bahagia. Sementara orang yang banyak uang membayangkan kalau ada yang menyayangi apa adanya bukan karena memandang hartanya pasti akan bahagia. Jadi belum tentu jadi orang kaya itu bahagia juga.

Butuh penempaan diri agar pikiran suntuk, sumpek itu hilang. Mengganti kebiasaan melakukan hal buruk dengan yang lebih baik. Karena makna SABAR adalah menahan, jadi kalau punya keinginan melakukan hal negatif misalnya menghisap lem kayak anak jalanan, ganti dengan mengkonsumsi buah segar, eh... ini contoh loh. Lalu ditambah dengan sholat sunat seperti Dhuha dan Tahajud.

Di Al Qur'an dinyatakan sabar dan sholat adalah cara untuk menghilangkan kegelisahan hati, Saat sholat, minta pada Allah untuk menambah kesabaran. Butuh proses dan penempaan diri.

Allah berfirman
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ 
Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. [Qur'an surat al-Baqarah ayat 153]

Bagi orang beriman kepada Allah, akan berusaha mencari jalan yang di ridhoi oleh Allah. Keinginan untuk merubah diri itu adalah termasuk hidayah dari Allah...

Baca juga link ini PENGHALANG HIDAYAH

2 comments:

Arya Devi said...

memang tidak selalu orang yang curhat selalu diikuti dengan ucapan-ucapan nasehat, terkadang yang diperlukan hanya diam dan mendengarkan isi curahan sahabat tersebut, menjadi pendengar yang baik itu sudah akan mengurangi bebannya......

Anonymous said...

Sabar itu hasil, dan pribadi yg bersangkutan yg bisa mengukurnya.