Monday, July 1, 2013

Tidak perlu belajar Islam

Di tempatku tiap Selasa sore ada pengajian Bapak-Bapak. Dulu almarhum Bapak yang merintis, mengajak teman-teman beliau sesama pensiunan dosen UGM untuk belajar Islam. Mereka ini menguasai ilmu untuk kuliah, tapi ada beberapa yang tergerak untuk belajar Islam setelah pensiun. Seorang dosen tentunya sibuk dengan ilmu, membaca buku seabreg-abreg, mengajar mahasiswa, memberi ujian dan penilaian.

Aku kuliah dulu juga di UGM, FMIPA. Kalo ingat malu juga, dulu tidak rajin belajar tapi sibuk dengan kegiatan ekstra kurikuler. Kayak paduan suara dan softbol. Alhamdulillah lulus juga, di wisuda persis saat pertama kali gedung Graha Sabha Pramana digunakan. Soalnya aku pernah ikut paduan suara, aku sering mengikuti upacara wisuda saat diselenggarakan di sebelah utara gedung balairung UGM, bukan di gedung tapi di tenda, kalo hujan cukup tidak nyaman dan kadang ada wisudawan yang pingan.

Tentunya belajar Islam itu perlu. Tapi kadang aku menemui muslim yang istiqomah belum tentu mereka yang rajin belajar Islam. Salah satu rekan kerjaku pernah cerita, almarhum Bapaknya sebelum meninggal minta di belikan makanan untuk tetangga sekitar, karena sempat masuk ICU. Walau dijelaskan banyak makanan kiriman tetangga, tetap minta dibelikan dari uang sendiri. Tinggalnya di kampung, belajar Islam dari guru yang NU, cara berpikirnya sederhana dan beliau seorang mualaf. Tidak punya ilmu berlebihan tentang Islam, tapi sepertinya meninggal dengan memberi tanda-tanda, berpamitan dengan semuanya dan sangat tenang.

Ada almarhumah Ibu mertua kakakku, seumur hidupnya beliau jarang menggunakan kerudung. Tidak ada istilah baju muslimah yang versi hijabers atau syar'i untuk beliau. Menggunakan baju seadanya. Karena suami beliau sakit, puluhan tahun sibuk mencari nafkah dengan membuat dan berjualan snack. Di akhir hayat beliau memutuskan untuk berhenti bekerja, tinggal di rumah kakakku. Kata pembantu di sana rajin sholat tahajud, walau pemahaman beliau tentang Islam sangat sederhana. Mendapat kesempatan untuk berangkat haji pertama kali dibiayai putrinya dan meninggal di Mekah.

Kadang orang yang sibuk belajar Islam cara berpikirnya malah complicated, ribut sendiri gak jelas. Sebelum umur 40 tahun, aku tidak pernah menikmati mempelajari Islam. Kalo aku ikut pengajian bawaan ngantuk, bosan, dan mikirin hal yang lain. Pernah ikut ke pesantren kilat di sana pembimbingnya pernah ngobrol pengen pindah ke Arab soalnya tvnya gak ada maksiat. Gak nyadar ya, di Arab memang semua dibatasi, ada polisi syariah segala, gak boleh ada pasangan di luar nikah di jalanan umum. Belajar tentang Islam dan aturannya sejak kecil. Pergaulan wanita dan pria dipisah. Tapi di jaman sekarang ini, dengan adanya teknologi internet, aku jadi tau kalo laki-laki Arab bawaannya ngeres melulu. Apalagi di facebook, walau timelinenya isinya ayat-ayat Qur'an begitu ngirim inbox kalimatnya "Do you have cam? Do you like sex?".

Sekarang mencoba memperbaiki diri dengan belajar Islam. Tidak hanya versi ulama Arab, tapi juga kebijaksanaan Wali Songo yang dengan membaurkan budaya Jawa menjadi lebih Islami. Kebijaksanaan Wali Songo tentang Islam banyak dirusak dengan mistik. Coba deh, waktu aku bilang guruku orang Muhammadiyah dibilangin "terlalu moderat". Kalo punya teman NU ada komentar "banyak bid'ah". Atau yang bergaya salafy "Arabisasi".

Semua ilmu itu benar, bila menjalankan dengan hati bersih. Itu menurutku. Orang NU yang hidupnya gak neko-neko, gak banyak ngutang memaksakan diri untuk tahlilan bisa jadi meninggalnya sangat tenang. Tapi memang berbahaya kalo ketularan temannya terobsesi sesuatu minta-minta di kuburan yang dikeramatkan. Banyak yang bergaya salafy bisa saja  meninggal dengan tenang asal tidak memaksakan kehendak dengan kasar. Almarhum Bapakku belajar dari guru Muhammadiyah, meninggal dunia saat sholat subuh. Tetanggaku yang belajar Islam memutuskan beranggapan dirinya "JUST MUSLIM" tidak ikut aliran apapun.

Ada e-mail dari laki-laki menyarankan "mbak ini wajahnya menarik, sebaiknya tidak menampilkan wajah di blog bila ingin "berdakwah". Aku mikir, aku hanya menyampaikan uneg-uneg bukan ingin berdakwah. Bahkan aku jarang blogwalking dengan profile blog ini, dengan profile di blogku yang lain. Kalo ada yang baca ya syukur, mengkritik boleh, tapi aku berhak punya sikap sendiri. Kalo memang salah aku akan perbaiki. Kadang gak diberi kesempatan jawab sudah diintimidasi duluan.

Di Indonesia ini, memandang wajah perempuan bukan sesuatu yang aneh, justru yang aneh kalo pake cadar. Ada komunitas beranggapan bahwa  wajah wanita itu fitnah karena itu perlu ditutupi. Kalo wajah wanita itu fitnah, terus budaya Indonesia mau dikemanain. Orang-orang kalangan tertentu yang belajar Islam sibuk menceramahi, wajah wanita itu fitnah, tari-tarian dari Indonesia semuanya haraaaam karena kostumnya seksi dan tampak wajahnya.

Kadang semakin belajar Islam malah semakin tidak bertoleransi, tidak punya nurani, beranggapan kelompoknya sendiri yang benar yang lain salah semua, takut melakukan dosa jadinya tidak melakukan apa-apa. Atau mencoba memaksakan pemahaman  dengan cara kasar.

Judul di atas memang provokatif ya. Tapi maksudku belajar Islam itu penting kok. Selama diamalkan dengan benar, tidak syrik dan ngutang-ngutang untuk ritual tertentu. Allah memberikan hidayah pada yang Allah kehendaki...

4 comments:

arya-devi said...

iya bu, belajar adalah sangat penting hanya jangan salah acuan dan jangan cuma mengandalkan bernafsu saja.

bisa diliat, kalau berda'wah, isinya banyak menyalahkan paham orang lain, meng kafirkan...lebih baik tinggalkan...

dari jaman kuda gigit besi ^_^..selalu masalah itu-itu saja yang dipermasalahkan...dibid'ahkan, disesatkan...padahal masing-masing sudah punya dalil tersendiri dan diyakini pula.

Dan ridho Allah tidak didapat dari semua ilmu yang dikuasai mereka, apapun!

Semua terserah Allah, mau memberi kebaikan atau tidak....

mawi wijna said...

ber-to-le-ran-si. Yang sulit dewasa ini adalah toleransi. Kita semakin tidak toleran tatkala kita terlalu condong pada satu sisi. Ini ketimpangan yang harus dibenahi. Bila ini terus-menerus dilakukan, kita akan semakin mengkotak-kotakkan kehidupan. Yang seperti ini berlaku pula ketika kita mengamalkan ajaran agama.

catatan-r10.com said...

Menurutku mereka yg ilmu islamnya sederhana atau blm kaffah

Mereka ini jika berhasil mendapatkan akhir yg baik, itu karena ada amal baik yang Allah sukai

Jadi Dia memberikan pertolongannya

Bagus Achan said...

Budaya yang haram tetap haram yang gk langgar syariat ya boleh

Budaya yang ngikutin islam bukan islam yang ngikutin budaya