Sunday, September 1, 2013

Kursi pijat di Bandung

Kadang kalau pencernaan bermasalah, paling gak enak saat travelling. Bisa diare atau konstipasi/sembelit. Tentunya perlu sedikit improvisasi untuk mengatasinya.

Saat umrah April tahun ini, aku mengalami konstipasi, memutuskan untuk membeli mangga 1 kg dan kukonsumsi semua.  Maklum doyan banget makan buah. Dan akhirnya sukses bisa ke belakang.

Tapi saat weekend di Bandung, ketemu teman SMA, masalahnya pola makan yang kacau perutku kembung, pencernaan terganggu, penuh dengan gas. Menjelang kepulangan naik kereta Lodaya, karena diantar teman sekitar jam 5, memutuskan duduk menikmati kursi pijat. Setelah di kursi pijat punggungnya dipijat secara mekanik, telapak kaki juga direfleksi. Yang pijat mekanik untuk punggung cukup nyaman, tapi pijat refleksi kaki lumayan penyiksaan, kayak ditusuk-tusuk dan disetrum.

Baru 10 dari jatah 15 menit akhirnya berhenti, perut udah mules banget. Beli tisu kering dan basah dulu terus lari ke toilet.

Selesai, lega... Baru  sekali ini aku dipijat secara mekanik, biasanya aku punya langganan tukang pijit buta. Tentunya lebih nyaman dipijit manusia, tapi cukup melegakan mengurangi sedikit pusing dan masalah pencernaan terganggu.

Ini ditulis di stasiun Bnadung sambil menunggu keberangkatan kereta api Lodaya ke Jogja.  Aku dapat promo dapat tiket seharga 50 ribu rupiah saja, Alhamdulillah...

3 comments:

muhammad ridwan said...

bu dhe ku di Bondowoso tukang pijet panggilan. aku pernah juga mengalami masalah pencernaan yang terlalu lancar sampai pagi pagi sudah ke kamar mandi tiga kali. untung bu dhe ku datang. begitu dipijat, langsung mampet deh tuh perut. bu dheku emang tokcer.. :D

kalau yang mekanik aku belum pernah coba sih...

BlogS Of Hariyanto said...

kursi pijat semacam ini sudah menjamur keberadaannya, di mall, di terminal, dan di stasiun2 , bahkan di bandara juga ada ...salam :-)

capung2 said...

walau sering menjumpai di mall2 tapi saya blm pernah mencobanya..