Friday, September 13, 2013

Laki-laki Saudi yang galau

Di Saudi Arabia banyak pendatang lain dari Asia. Kebanyakan Pakistan, India, Srilangka. Tentunya orang Indonesia dan negara lain tapi tidak sebanyak 3 negara yang disebut di atas.

Dalam hal pekerjaan, orang asli Saudi diprioritaskan. Kerja yang levelnya sama dengan orang Asia, orang Saudi dapat gaji lebih besar,

Kalau melihat di Facebook, orang Saudi itu nampaknya misterius banget. Mereka jarang upload foto mereka pribadi. Apalagi upload foto ngumpul-ngumpul ma temen. Kalo ada yang iseng upload video pesta pribadi (wanita dan pria dipisah) wooow... mencengangkan.

Hukum syariat di Saudi sangat ketat. Tidak ada yang boleh pacaran di depan umum. Tapi di pesta pribadi, yang khusus laki-laki suka menyewa penari perut. Bahkan ada wanita yang tidak bergaya penari perut, tangan diletakkan di lantai, pantat digoyang-goyangkan.

Sedang di pesta wanita, mereka banyak pakai baju seksi berkelip-kelip pake payet. Sambil menyewa grup musik, kadang sambil joged-joged.

Menjelang Ramadhan kemarin, ada 2 laki-laki Saudi kontak aku. Nanya apa aku berangkat umrah Ramadhan, kalo iya, mereka mau menemuiku. Aku bilang enggak, ya udah mereka menghilang gitu aja, aku gak mau mikir terlalu jauh maunya apa.

Beberapa hari terakhir ini sekitar jam 5 pagi ada seorang laki-laki Saudi yang tinggal di Jeddah kontak aku, katanya dia jadi Sleepless in Jeddah (ini istilahku nyomot dari judul film). Jam segitu di Jeddah sudah tengah malam.

Dia cerai 6 tahun yang lalu. Sibuk dengan kerjaan, tapi akhir-akhir ini suka merasa kesepiannya cukup mengganggu. Tingkat perceraian tahun-tahun belakangan ini di Jeddah memang tinggi sekali.

Aku tanya kenapa gak nikah. Katanya sih, banyak hal yang jadi pertimbangan. Di Facebook kebanyakan friendlistnya wanita Asia. Faktor budaya, birokrasi, sulit menikah dengan wanita Asia, secara pribadi dia menyukai wanita Asia.

Dia nanya, boleh gak ke kotaku pas Idul Adha mendatang. Aku jawab silakan saja. Umurnya sekitar 35 tahun, jauh lebih muda dari aku. Dari pengalamanku sebelumnya, banyak orang luar yang bilang mau ke Jogja, nyatanya gak jadi.

Tinggal di Saudi bagi wanita Indonesia, apalagi yang gaul tentunya tidak menyenangkan. Tidak boleh keluar sendiri, tidak boleh menyetir mobil. Acara tivi terbatas, koneksi internet juga cuman bisa membuka situs tertentu.

Bersyukur banget bisa tinggal di Indonesia. Bisa punya wawasan lebih luas. Bisa berteman dengan siapa saja, bisa kopdar dengan blogger. Bisa menyalurkan hobi olahraga.

Walau Indonesia banyak kekurangan kayak korupsi merajalela, dan lainnya, toh banyak hal yang bisa bikin kita ketawa akhir-akhir ini dengan populernya kalimat aneh dari seorang yang sekarang diciduk oleh kejaksaan karena kasus penipuan...

2 comments:

beli buku online diskon said...

bener bener bersyukur bisa di indonesia ya, apalagi katanya wni yang ada di saudi itu rawan tindak kejahatan, kalopun kita dijahatin sama orang, biasanya susah juga menang di pengadilan, pembelaannya sulit banget.. ini juga cerita dari temen yg kuliah di saudi katanya begitu mba...

Ratnawati Utami said...

The governments of the Gulf (GCC) feed people with this propaganda of ‘preserving’ the ‘authentic’ culture — they give this discourse of a ‘culture facing erosion.’ This is simply a tactic of control. In reality, the rulers are concerned with maintaining their dictatorship power. Regulating marriage is one way to keep power. The governments of the GCC want to control who is eligible for citizenship and the privileges that come along with citizenship. Less citizens = easier to control. The GCC countries are extremely prejudice in their citizenship laws, which has nothing to do with so-called ‘culture,’ but rather it’s about maintaining their oppressive rulers. In Islam, all Muslims are equal, and therefore they are entitled to marry each other. The Gulf laws, however, contradict this. They have silenced their people, so even if Gulf nationals want to fight for what’s acceptable (in Islam) they risk going to jail or losing their job. It’s very tragic.

Sadly, these laws have been internalized by many national citizens themselves. It’s not only legal control, but mental too. Gulf media and religious fundamentalists try to ‘justify’ the the ‘benefits’ of marrying a national citzens, whilst showing the ‘negative’ aspects of marrying a foreigner. Again, this has nothing to do with culture, but it’s a matter of social control to maintain government power.