Friday, November 15, 2013

Ngajak berantem

Aku itu bukan orang yang suka ribut. Kalo ribut soal prinsip mending menghindar aja. Memang aneh sih, masalah sepele diobrolin bisa bikin tegangan tinggi. 

Pernah ada laki-laki yang umurnya 3 tahun di atasku bilang bahwa semua laki-laki adalah buaya, tapi dia adalah buaya yang beriman. Maksudnya tentu saja, kalo ngeliat perempuan bawaannya ngeres. Cuman karena dia merasa sudah menjalankan sholat 5 waktu jadi dia beranggapan dia laki-laki dengan otak ngeres yang beriman.

Apapun yang terjadi karena dia ngotot menurutnya wanita yang mendorong suami ke surga adalah yang mendukung poligami. Duh, laki-laki yang dikuasai hawa nafsu kok menganggap dirinya beriman. Dan menghakimi wanita yang berharap suaminya monogami bukan wanita sholehah. Bisakah lebih bijak sedikit untuk menundukkan pandangan dan berhenti beranggapan bahwa wanita yang berjuang untuk istiqomah dan lebih suka bila suaminya monogami bukan wanita sholehah. Bagaimana jika istrinya mengingatkan agar suaminya lebih baik satu saja bila tidak bisa adil.

Adalagi yang ngajak ribut diskusi ma aku, soalnya katanya hidupnya tidak tenang karena diteror mantan suami istrinya, jadi dia minta ke istri perrama boleh menikah lagi.

Atau seorang keturunan Arab yang tinggal di Jakarta yang katanya paham Islam banget, di telepon minta ijin sambil mendengar suaraku melakukan maaf.., masturbasi. Darurat katanya, daripada sakit.

Terakhir seorang laki-laki yang hidupnya penuh kecemasan saking takut neraka. Katanya do'a Nabi Ibrahim as yang taku dengan syrik membuatnya tidak mau melakukan apa-apa. Terus aku bilang hidup itu mesti berjuang, memperjuangkan kebenaran bukan dengan ketakutan. Dijawab mbak ini kok berpikirnya kayak teroris melakukan segala sesuatunya tanpa ilmu.


Capek banget ngobrol ma orang Indonesia lewat chatting, belum pernah ketemu, tapi aku disuruh mengiyakan maunya mereka. Yang terakhir nyuruh aku nyari istri buat dia, aku jawab minta pada Allah dan biro jodoh, salah kalo nanya ke aku. Endingnya memang berantem.

Aku tau sesama mukmin itu bersaudara. Tapi kalau sudah satu pihak ngotot memanfaatkan aku untuk maunya mereka dengan cara yang mengintimidasi gitu, sorry aja gak dilayanin. Hanya berteman dengan yang bicaranya sopan dan tau diri...

1 comment:

Ratnawati Utami said...

Sholat akan menghindarkan perbuatan keji dan munkar. Bila ada yang sholat tapi masih berbuat syrik dan maksiat berarti sholatnya tidak khusyuk,

Masak chat mencari teman yang berjenis kelamin laki laki muslim tidak bertahan 3 hari saja? Hari ke 4 sudah mulai aneh aneh, ada yang ajak hub sex lewat cam, atau minta diliat sedang masturbasi, atau obrolan mesum. Padahal mereka hapal banyak hadits bahkan ayat Quran.

Dan untuk yang di Bogor, seorang yang sudah ma'rifat pikirannya sudah tertuju pada Allah, tidak keganggu sama hal porno, tidak akan menyakiti hati orang lain dengan ancaman, mengembalikan yang bukan miliknya. Apalagi bila ingin mendapat syafa'at dari Nabi Muhammad SAW, akan berusaha menjalankan sunnah beliau sebaik baiknya.

Definisi keliru soal amanah, bahwa anak seharusnya ikut ibunya tapi tetap dibiayai ayahnya, Islam menghalalkan perceraian apalagi bila pernikahan itu hanya menyengsarakan satu pihak, termasuk pihak pria morotin uang pihak perempuan. Baca hadits dan Quran, bertanya pada guru agama yang paham...