Saturday, December 7, 2013

Hampir jadi Long Distance Relationship

Mungkin hatiku sudah mati kali. Dan barangkali memang ada yang sengaja membunuh tapi tidak sadar. Soalnya info dari seorang teman, pernikahanku awal 2000 di Bogor aku lakukan dengan tidak sadar. Maksudnya tidak sadar apa, mantanku menggunakan semacam pagar gaib agar mataku hanya tertuju padanya, hanya dia yang benar dan yang lain salah semua.

Sekarang si mantan sibuk nulis status di Facebook, isinya mengintimidasi aku. Yang katanya aku gak akan mencium bau surga, ibadahku hangus semua, sekarang ini aku kena azab, aqidahku error, kalo aku nikah lagi itu perzinahan (ngawur pake banget soalnya udah 4 tahun gak dikasih nafkah dan dia udah mengucap talak) dan banyak lagi. Linknya di sini. Menurutku dia gak bener, soalnya dia ngandalin shalawat dan dzikir dalam jumlah ribuan yang tidak ada sunnahnya. Nah, dengan bershalawat atau berdzikir over dosis ini dia bisa ketemu (ngakunya) aulia Allah.

Karena merasa sudah merasa setara dengan aulia Allah, dia menciptakan teori-teori sendiri, termasuk beranggapan dia sudah dekat dengan Allah dan bakal masuk surga, sementara aku mencium bau surga aja enggak. Istilahnya begini, aku masih taraf syariat dan dia sudah di level hakekat. Tapi definisi hakekat dia sih menurutku kok mencurigakan, dengan sikapnya yang masih suka meneror, mengintimidasi, menzalimi, bahkan ngaku-ngaku barangku yang kutinggal di Bogor haknya dia. Sorry OOT... tapi ini penjelasan tentang hatiku yang sempat mati, dan ada orang yang senang bila aku terkondisi begitu.

Tahun lalu, saat aku mempersiapkan umroh di bulan April 2013, di bulan Desember 2012 aku sudah bikin artikel persiapan umrah. Aku baca banyak sekali artikel, nanya ke kakakku, rekan kerja, tapi gak punya bayangan blas. Waktu itu aku ketemu orang Pakistan yang sudah jadi warga negara Kanada, di Toronto. Pekerjaannya sebagai pemilik sekaligus supir transportasi pengiriman barang, truk besar itu.

Supir truk di sini lain kayaknya dengan supir truk di sana, dia bisa beli rumah berlantai dua. Kehidupannya lumayan. Tapi dia bercerai dengan istrinya soalnya sering ribut. Menurutnya istrinya kurang bersyukur. Sejak pindah ke Amerika Serikat lalu ke Kanada istrinya jadi cenderung materialistis. Mereka bercerai, dan waktu aku ketemu sama dia posisinya sedang dalam proses perceraian. Masih ada proses lagi, rumah yang ditinggali saat itu mesti dijual dan dibagi dua.

Si Pakistan ini 3 tahun lebih tua dari aku. Aku berhubungan di dunia maya sekitar 2 bulanan dan intensif. Selisih waktu kalo tidak salah persis 12 jam. Pas dia mau ngajak ngobrol, aku kerja. Pernah waktu itu ada raker 3 hari di sekolah, tidak ada kegiatan mengajar. Pas raker aku buka skype sama dia. Otakku gak fokus ama raker, dia ngeliat aku lagi raker, tidak pake speaker atau headset tapi chatting.

Kalo lagi sempat sih, kita ngobrol. Lalu keponakan di bulan Januari nikah di Pangalengan. Aku bela-belain bawa netbook, handphone Nokia aku jadiin modem. Persis balik dari Pangalengan dia benar-benar menghilang, aku kirim message di inbox Facebooknya, aku malah diblokir. Saking keselnya aku bikin account Facebook lain, ku add semua nama di friendlistnya. Ada keponakannya mau diajak ngobrol, malah sampai sekarang masih kontak-kontakan.

Si Pakistan ini penganut salafy, sedang aku Muhammadiyah. Kenapa terkotak-kotak, toh kita sama-sama muslim toh. Soalnya memang almarhum Bapakku bersahabat dengan pak AR Fahruddin, pak Amien Rais. Sekarang yang mengisi pengajian mingguan di rumahku adalah antara lain pak Munichi, cucu pendiri Muhammadiyah KH Ahmad Dahlan. Dan kenyataannya aku memang sehati dengan Muhammadiyah.

Aku diajari si Pakistan ini untuk mengenakan abaya gelap tiap harinya. Dia berencana mau menemuiku, melamarku, menikah terus pindah ke Dubai. Banyak saudaranya di sana, dia bisa atur mau kerja apa. Gak boleh kontak sama laki-laki lain, kalo perlu friendlist Facebook punyaku perempuan semua.

Waktu dia ngilang, aku kaget, tapi aku gak sedih, biasa-biasa aja. Mungkin aku gak cinta-cinta amat sama dia, aku rasa dia juga gitu sama aku. Hanya mencoba mencocokkan karena merasa sama-sama sendiri.

Lalu setelah itu masih kenalan lagi dengan sebreg laki-laki luar. Biasa ngobrol, terus gak ada feeling menghilang gitu aja. Banyak PHP, ada orang Palestina, Syria dan beberapa lagi yang ngomongnya manis banget. Berteori-teori, aku nanti ke tempatmu blah blah blah... gak taunya ya menghilang tanpa jejak. Ada orang Emirati di Dubai di YM bilang kita nikah yuk, begini begini. Sampai history di YM aku copy paste aku tunjukkin ke sahabatku, punya indra ke-6 dia, jawabannya singkat "Jangan percaya pada orang Arab". Tapi ini dalam kasusku loh, tidak bisa digeneralisir begitu saja. Kalo orang lain punya masalah, aku bisa menasehati, tapi kalo masalahku sendiri, aku butuh bantuan soalnya rasanya instingnya ketutup dengan subyektifitas.

Setelah itu ketemu orang Argentina, yang ini bule tapi muallaf, lagi-lagi di Kanada tapi kotanya Alberta. Punya usaha sendiri interior designer dengan beberapa karyawan. Dia sering telpon aku, ngajak aku skypean, hampir setiap hari. Seandainya masih hubungan bulan depan Januari 2014 dia mau kunjungi aku. Aku juga mau diajakin ngobrol sama dia, toh dia ngajak bicara biasa, sopan gak bahas yang menjurus.

Yang jadi masalah setelah beberapa bulan aku baru tahu kalo sebagai muallaf dia tidak tertarik untuk melakukan sholat. Versinya dia sih, tiap bangun tidur aku berkomunikasi dengan "Tuhan" pake bahasa Inggris dan itu sudah cukup buatnya. Rejekinya lumayan, hatinya tenang dan selalu positif tanpa sholat bahasa Arab. Sederhana saja setelah 4-5 bulan aku bilang sorry dan gak mau angkat teleponnya lagi. Perasaanku juga biasa-biasa saja, gak merasa kehilangan banget.

Terakhir ini orang New York. Awalnya dari candaan aku bilang, pengen ke New York liat Islamic Center dekat ground zero (bekas WTC yang runtuh kasus 911). Belum lama ini aku barusan tau kalo rencana Islamic Center yang banyak dihujat warga Amerika karena disetujui Obama ini tidak berjalan lancar. Uang sumbangan masuk ke kantong ke pimpinan dari kelompok komunitas muslim di sana yang hidup glamour.

Si New Yorker ini keturunan India sudah menjadi USC (United State Citizen). Katanya mau ke tempatku awal Januari depan. Terus terang aku masih belum tau jadinya gimana, kan mesti ketemuan dulu. Bisa jadi juga dia ngilang kayak yang lain-lain. Tapi aku sempet iseng bikin artikel Bagaimana mengajukan visa tunangan warga negara Amerika ke Amerika Serikat. Linknya di sini. Cukup rumit, birokrasinya detil dan panjang. Maklum banyak orang Indonesia suka nekat pengan ke Amerika sampe dibelain jadi imigran gelap. Tapi kalo visa tunangan lebih mudah disetujui dibanding visa lain, kayak visa turis misalnya. Dan ada bedanya visa pasangan (spouse) dan tunangan, tapi menurutku lebih sederhana yang tunangan apalagi kalo yang USCnya sibuk gak bisa ngepasin jadwal KUA.

Jadi tunggu aja bulan Januari besok ya, bisa jadi ada perubahan besar dalam hidupku atau tidak ada apa-apa. Aku mendo'akan supaya mantanku yang di Bogor kembali ke jalan yang benar (sudah ngerasa selevel aulia Allah dan aku dianggap masuk neraka). Dan banyak berdo'a supaya jalanku dimudahkan Allah, dimanapun tempatnya berusaha istiqomah...

2 comments:

Anonymous said...

Jadi ingat lagunya Wali: bapak-bapak ibu-ibu siapa yang punya anak tolong aku.....dan sterusnya.

Ratnawati Utami said...

Wew... belum seputus asa kayak gitu yaks... Mintanya sama Allah supaya dapat pasangan yang bisa saling support menguatkan keimanan...

Lagian awal tahun depan mau ketemuan... hehehe... kalo jadi sih