Wednesday, February 26, 2014

Banyak ujian saat kita berusaha baik

Salah satu kisah yang benar-benar menusuk hatiku adalah kisah Nabi Ayyub alaihi sallam. Nabi Ayyub a.s. di Al Qur'an diceritakan beliau kehilangan segala-galanya, harta, anak, dan kesehatan. Tapi dalam kondisi paling buruk tetap beriman pada Allah dan rajin ibadah.

Tidak sama persis, tapi aku juga kehilangan anak-anakku dan hampir semua teman-temanku. Ada satu komunitas angkatan waktu aku sekolah dulu, yang memfitnah aku begini begitu, sampai-sampai aku tidak mau ikut reuni lagi. Terus merambah ke komunitasku yang lain, difitnah, tidak diajakin gabung... tapi dengan komunitas blogger aku masih bertahan, semoga dan seterusnya.

Kehilangan harta juga, rumah, mobil, tabungan, barang-barang kesayangan. Kemana? Bisnis yang buruk, dikhianati "teman-teman baik" dalam berbisnis, barang yang aku beli sebelum nikah dianggap milik mantan. Juga kehilangan kesempatan untuk mengasuh anak-anakku. Kenapa... diambil tanpa pamit, disuruh balik, diteror kalo gak mau balik bakal masuk neraka. Jelas aku gak mau balik, dia ikut aliran sesat tapi gak merasa, malah pikirnya sudah ma'rifatullah karena sudah jalan-jalan ke alam gaib bertemu aulia Allah. Gimana aku gak ngatain sesat, seingatku dia gak sholat 5 waktu dan puasa di bulan Ramadhan. Setan meyakinkan dia, orang ma'rifat itu gak usah sholat, sudah dijamin surga, Setauku yang dijamin surga itu Nabi Muhammad s.a.w dan tetap melakukan sholat 5 waktu ditambah sholat sunat sampai kakinya bengkak-bengkak.

Orang kalo sudah melihat gaib (tidak semua, tapi yang beraliran sesat), yang tidak dilihat orang lain dipikirnya sudah spesial... dan keras kepalanya bukan main kalo diingatkan malah tambah menyerang. Dipikirnya menyerang orang lain gak dosa kali, ya itulah penyesatan setan memang bisa membutakan mata hati, orangnya lebih buruk dari binatang ternak, ibaratnya hidungnya sudah dicocok dan diarahkan oleh setan perbuatannya.

Ada e-mail menanyakan padaku, dia ingin memperbaiki diri menjadi lebih istiqomah. Tapi gak niat banget, cuman sekali e-mail terus gak kontak lagi. Jawabku sederhana "saat berusaha menjadi lebih baik, siap-siap kehilangan hal-hal yang kita cinta". Cuman aku lupa kasih info, tapi akan dapat ganti yang lebih baik, soalnya nanyanya juga gak niat.

Ada kasus orang yang sudah sengsara di dunia, di akhirat juga. Banyak ngutang, bisnis gagal terus, eh... masih suka aja nipu-nipu. Hidupnya susah di dunia, gak pegang duit... herannya masih sibuk nipu-nipu. Diingatkan bertaubat, perbaiki diri gak nipu lagi, tetap aja gak bisa. Ini sudah ibarat orang kecanduan narkoba, rejeki gak ada, hidup sengsara di dunia, eh masih ditambah sengsara di akhirat.

Kalo ingin memperbaiki diri lebih istiqomah, memang mesti siap mendapat ujian menyakitkan. Kehilangan anak, harta benda, teman-teman baik (karena kita difitnah oleh oknum), orang yang kita cintai, kesehatan. Hanya manusia beriman yang tetap bisa bersyukur dan berprasangka baik pada Allah dengan kehilangan semuanya. Beneran gak mudah... aku bisa bertahan untuk tetap hidup karena aku yakin Allah akan mengganti dengan yang lebih baik.

Kesimpulannya apa... hidup di dunia itu hanya sementara. Kesabaran yang akan membawa kita ke surga. Hati yang bersih, berserah diri, suka membantu karena Allah yang akan membawa kita ke surga. Amalan-amalan yang baik juga akan membawa kita ke surga.

Ntar ada yang protes, bukannya kita mengharap ridho Allah, bukan ingin ke surga. Semua kan berkaitan, bila kita bisa melakukan semua hal karena berharap ridho Allah, maka Allah akan ridho kita berada di surga...