Wednesday, July 9, 2014

Menjaga perasaan orang lain

Orang yang berakhlak baik akan menjaga perasaan orang lain. Menyenangkan hati orang lain dan tidak menyakiti hati. Memang tidak mudah, karena pada dasarnya manusia lebih suka menumpahkan amarah, kebencian, kesombongan, dan hal negatif lainnya.

Kalo ada orang "mengaku" (dalam tanda petik ya) bahwa dia orang sholeh tapi suka meneror, mengintimidasi, mengancam, menyakiti hati, menzalimi, dan seterusnya yang negatif lainnya, sudah dipastikan bahwa kesholehannya palsu.

Hanya orang yang sudah mencapai kemampuan mengontrol diri supaya bisa selalu positif yang menurutku bisa dianggap sholeh. Sudah tidak tertarik untuk melakukan hal negatif, hidupnya adalah untuk membantu orang lain, membahagiakan orang lain. Butuh proses untuk mencapai ke sana memang, karena banyak orang merasa dirinya sudah cukup sholeh atau sholeha karena pandai menulis status facebook "bijak" tepatnya hanya cuman copy paste dan mendapat pujian sudah membuatnya "merasa".

Perjalananku ke Pare kemarin aku ketemu dengan wanita yang melakukan pencitraan. Dia punya suami dengan materi berlebih. Di facebooknya memasang fotonya menggunakan kerudung dan menulis kalimat bijak. Dan dia pernah berkata di kelas yang menyatakan bahwa dia wanita sholehah. Tapi aku yang sempat sekamar sehari, ngeliat dia ngerokok, sholat bolong-bolong, tidak pernah tarawih. Sempat cerita dalam seminggu dia ngabisin 4 juta di Pare. Gak sengaja dia keceplosan cerita bahwa semalaman dia video call dengan laki-laki muda. Dan dia marah-marah sama suaminya soalnya dikirimin uang cuman lima ratus ribu, soalnya dia tipe boros, ngeborong kaos di toko oleh-oleh bukan untuk dikasihin ke orang lain tapi untuk dikoleksi. Aku sampe mikir, apa iya laki-laki muda yang dia ajak video call itu gak minta uang ke dia. Masih sulit melakukan kontrol diri untuk tidak kalap ngeliat brondong dan belanja, tapi merasa dirinya sholehah.

Ada lagi wanita lain yang sudah menikah, punya ide pengen lebih banyak beribadah dan sedekah tapi dengan cara selingkuh. Yang ini dia mengirim e-mail ke aku. Seharusnya sih, tujuan baik dengan cara yang baik. Dia bilang ke aku, dia selingkuh dengan laki-laki kaya karena berharap dinikah. Lucunya biarpun selingkuh gak mau minta cerai alasannya "gak mau rugi". Gak tau apa yang ada di pikirannya, tapi menurutku dia pengen banget masuk kelompok sosialita, affair dengan laki-laki tajir dan melakukan pembenaran dengan alasan tujuannya baik agar bisa banyak sedekah dan ibadah. Kontrol diri terhadap hawa nafsu ingin jadi sosialita membuatnya affair dengan pembenaran.

Ada juga laki-laki yang meneror aku. Dia bilang kalo dia sudah ma'rifat, mencapai ilmu hakekat, tapi sibuk memfitnah aku. Ngatain bahwa aku akan masuk neraka kalo gak nurut sama dia. Setauku manusia yang ma'rifat hanya akan mendo'akan kebaikan bukan mengancam masuk neraka kalo gak nurut sama dia. Ini orang sudah keblinger dengan ilmu hakekat sesat. Untung beraninya cuman bikin Facebook khusus untuk mengintimidasi aku lewat status-statusnya, emang PENGECUT KELAS BERAT. Gak berani muncul langsung dan kalo berani ceramah tuh di rumahku di depan rekan kerjaku soal ilmu HAKEKAT PALSU yang diyakininya akan membawanya ke surga. Wooy, surga yang mana wooy... orang yang suka memfitnah, meneror, mengintimidasi justru akan menyedot dosa orang yang diterornya. Yang diteror naik ke surga, dia tenggelam ke neraka.

Hidup di akhir zaman memang banyak orang meyakini dia masuk surga dengan pembenaran. Sudah dirasuki setan, hanya Allah yang bisa membukakan hatinya untuk bisa menerima kebenaran...

3 comments:

Anonymous said...

Sebaiknya prabowo dan jokowi saling menjaga perasaan satu dengan yang lain, dan yang paling penting mengontrol pribadinya masing-masing, persis seperti yang dilakukan bu ami.

Ratnawati Utami said...

Sekarang itu akhir jaman. Sulit untuk bisa menjaga perasaan satu sama lain. Adanya cuman kepentingan untuk menyenangkan diri sesaat.

Nyindir ya... aku belum sebaik itu kok, kalo ada yang ngeselin ya aku kasih tau.

Aku juga masih banyak melakukan kesalahan. Kita semua berusaha memperbaiki diri, dengan terus belajar, terua bersabar, bersyukur, dan minta dijauhkan dari godaan setan yang terkutuk yang menggoda untuk zalim pada orang lain atau menzalimi diri aendiri...

Ratnawati Utami said...

Untuk anonim yang membaca postingan dari Roh Jibril, yang bertempat tinggal di Surabaya. Harap anda tau bahwa Roh Jibril itu menawarkan bisbis money game, dan banyak blogger kena getahnya di komen dengan kalimat yang tidak sooan bukan saya saja. Saya mencoba menuliskan tentang bisnisnya yang money game dan dia kreatif sekali bikin blog untuk saya, dan itu gak ngaruh saya tetep sering kopdar ma blogger lain.

Ini tulusan curahan hati saya, kalo bicara gak sopan dipersilahkan untuk komen tapi tidak akan ditampilkan,

Dan saya berterima kasih banget soalnya kayak anda gitu ngatain saya munafik tanpa bukti berarti mengambil dosa saya.

Juga orang yang punya Facebook yang ngatain Allah mempersiapkan neraka buat saya tapi ngaku ma'rifat dan punya ilmu hakekat,,, duh coba deh diskusi sama ulama sunni, atau ulama sufi, mungkin mereka kasihan, lah wong bisa nerawang dan ngerogo sukmo karena membiarkan jin masuk ke tubuh.

Saksinya salah satunya pemilik sop buntut Mak Emun di jalan Sudirman Bogor, nanya bunyi apa semalaman kegaduhan di rumah, oh itu orangnya dilempar makhluk gaib semalaman sampe muntah dari ruang tamu sampe dapur. Jin kayak gitu perlu diperangi, gak ada manfaat berbaik baik dengan jin jahat.

Terima kasih atas tuduhan munafik, kalo saya bukan munafik tuduhan itu akan berbalik ke anda lagi, berdoalah demi kebaikan orang lain, hati hati ngatain kafir atau munafik...