Tuesday, November 25, 2014

Mengatasi kegalauan seorang jomblo

Sebagai seorang muslim yang jomblo di kepala 4 memang gak bisa dipungkiri kadang ngerasain galau. Galau tidak didominasi abg alay, separuh baya juga bisa galau, cuman banyak yang jaim.

Idealnya gimana sih secara pandangan umum seorang yang berumur kepala 4 itu coba... kalo muslimah ya pakai kerudung, pintar memasak, kalo di facebook isinya foto-fotoan dengan anaknya. Kalimat-kalimatnya sangat keibuan, masalah rumah tanggalah, masak inilah, terus dampingi anaknya ngapainlah.

Tapi kenyataannya dalam hidup ini tidak semuanya seperti yang kita inginkan. Aku di kepala 4 ini hidup sendirian, ngejomblo. Sehari-harinya kerja di usaha keluarga. Aku punya anak abg sma dan smp tapi di Jakarta. Anak sulungku cowok kuliah di Jogja, tapi taulah anak cowok kuliah pagi pulang sore kadang malam. Kegiatan yang dia sukai berenang dan naik gunung, jadi di akhir minggu juga sering pergi berenang atau kadang mendaki gunung.

Dalam pencarian, aku bergabung dengan komunitas spiritual, komunitas indigo, dan kayak gitu-gitulah. Eh, jangan salah loh, komunitas spiritual dan indigo tidak selalu bahas yang gaib-gaib atau terawangan. Ada beberapa yang malah membahas soal pencerahan untuk memahami makna hidup lebih dalam, gak cuman hura-hura duniawi.

Aku punya beberapa sahabat spiritualis yang mau mendengarkan semua keluhanku. Ini proses pencarian jati diri dan mengatasi galau. Aku rasa tidak ada batasan umur untuk memperbaiki diri dan belajar. Saran dari teman spiritualisku beda-beda tapi toh intinya positif

  • Spiritualis pertama : Meningkatkan kualitas diri menjadi lebih sabar, lebih bersyukur, pendengar yang baik dan banyak membantu orang
  • Spiritualis kedua : Sholat ditambah sholat tahajud, istikharah dan dhuha. Bila perlu sholat sunat rawatib. Menambah sedekah
  • Spiritualis ketiga : Minta sama Allah yakin, minta yang terbaik tanpa perlu mendikte maunya ini itu. 
  • Spiritualis keempat : Merubah perspektif masalalu yang menyakitkan disyukuri karena mmbuat kita belajar menjadi manusia lebih baik
  • Spiritualis kelima : Melihat dunia itu indah, walau banyak masalah toh masih bisa dilihat bahwa ternyata masih jauh lebih beruntung dari orang lain
Berat gak sih berusaha menjadi orang baik, vertikal dan horizontal. Ya, berusaha semampunya dan bergaul dengan orang-orang baik.

Ada kenalanku yang iseng cari suami lagi, padahal suaminya baik banget. Idenya pengen punya suami kaya banget. Jadinya gabung di dating site dan ngincer orang yang ngaku pengusaha tambang batubara. Tapi sejauh ini kayaknya si pengusaha ini cuman ngajak tidur gak ngajak nikah.

Ada lagi istri pengusaha yang kaya raya, selalu mendominasi pembicaraan gak mau dengerin. Dia bilang, suamiku tuh haji loh, aku juga mau naik haji tahun depan. Suamiku ngeselin banget tau gak, dia selalu over protektif, masak tiap hari ditanyain udah makan belum, pake jilbab enggak, Makanya aku suka jalan sama laki-laki muda sembunyi-sembunyi, capek diawasin ma suami parno.

Orang-orang suka melakukan maksiat selalu aja punya alasan pembenaran, dan mereka tidak mau bersyukur sudah punya suami baik masih nyari yang kaya atau brondong buat seneng-seneng.

Terus kenapa ada orang baik dapat orang kurang baik, aku sih memandangnya itu cobaan untuk orang baik agar bisa naik ke level lebih tinggi. Sedangkan yang gak baik ya akan berkutat di lingkaran setan aja. 

Bulan Maret tahun depan, Inn Sha Allah aku mau ketemuan dengan seseorang yang aku udah kenal lebih dari setahun dari dating site. Semoga semuanya lancar. Beneran aku ketar-ketir gak karu-karuan. berusaha tetap tenang dan menyibukkan diri dengan kegiatanku sekarang. Ya jadi guru TK, punya online store, dan rajin terapi chi walking soalnya aku punya masalah dengan tulang punggung...

Wish me luck...

No comments: