Wednesday, March 4, 2015

Positif thinking, positif feeling dan spiritual

Aku nulis ini belum tentu bisa melakukan. Kita semua berusaha menjadi seseorang yang lebih baik.

Jaman sekarang ini definisi sukses adalah materi. Gak peduli dapetnya nyolong, korupsi, proyek fiktif, atau apapun, kalo bisa pamer materi yang berlebihan orang berdecak kagum.

Mobilnya keren, rumahnya mewah, istrinya cantik atau suami ganteng.

Masalahnya kebahagiaan itu tidak bisa dibeli dengan uang. Orang yang rumahnya seharga bermilyar-milyar aja masih ada yang frustrasi dan bunuh diri. Tapi masih banyak orang berpendapat punya uang banyak itu bahagia.

Sebagai muslim, kalau membuka Al Qur'an maka akan mendapat gambaran kebahagiaan tanpa batas adalah di surga. Hanya saja, surga itu ditujukan bagi manusia bertakwa. Dan dari kejadian di dunia ini kita bisa melihat ternyata untuk menjadi bertakwa tidak mudah. Hidup di dunia fana ini hanya sementara, kehidupan abadi ada di surga.

Bisa gak dengan segala keterbatasan di dunia kita bahagia. Salah satu caranya yang ada petunjuknya di Qur'an adalah dengan bersyukur. Beneran loh, untuk bisa benar-benar bahagia itu gak mudah, lebih mudah menggalau.

Bayangkan, ditipu teman baik (aku merasakan beberapa kali oleh orang yang aku percayai), seseknya minta ampun, kesel marah, pengen ngamuk. Tapi orang yang punya kontrol diri tinggi, walau ketipu masih bisa bersyukur dan mengambil hikmah.

Lalu bagaimana bisa menerapkan positif thinking? Seseorang yang aku sayangi pernah mengingatkan aku, positif thinking sajalah. Maksud dari positif thinking adalah, punya perspektif yang positif terhadap segala hal. Kalau saja menghadapi masalah, lalu pesimis berpikir "aku gak akan bisa, ini terlalu sulit" ya gak bisa beneran.

Apa bedanya pesimis dan realistis. Realistis itu masih mau berusaha lalu menerima kenyataan, walau gagal tetap bisa mengambil hikmah, dan berusaha lagi. Di Islam berusaha lalu berserah diri namanya tawakal.

Terus apalagi positif feeling? Ini berkaitan dengan emosi. Di Islam orang yang bisa mengontrol emosi, bisa menahan amarah namanya sabar. Sabar bukan sesuatu yang terus merasa gak perlu ngapa-ngapain, nunggu keajaiban datang.

Sabar adalah kemampuan mengontrol emosi, orang yang mempunyai kemampuan mengontrol emosi namanya punya kecerdasan emosional, atau EQ (emotional quotient).

Orang yang sabar itu tetap tenang walau situasi under pressure. Ada yang beruntung berada di lingkungan keluarga yang mengajarkan kesabaran. Kadang kurang beruntung dapat didikan menjadi seseorang yang emosional.

Sabar itu bisa dilatih sebetulnya. Ada caranya, tapi aku bukan pakarnya. Gemblengan mental juga bisa membuat seseorang bisa tetap cool kayak cold blooded sniper. Dikeroyok orang banyak tetap tenang menembak sasaran dengan tepat.

Sedangkan spiritual adalah hubungan manusia dengan Tuhan. Kalo orang Islam tentunya manusia dengan Allah SWT. Kalo sedih, berdoa, istighfar, mohon petunjuk, menjalankan perintah Allah semampunya, sedekah diperbanyak, dan lainnya bukan sibuk menulis kegalauan di timeline Facebook.

Pencapaian positif thinking, positif feeling, dan kekuatan spiritual akan membuat manusia lebih tenang dalam menapaki hidup.

Percayalah, banyak sekali buku, artikel yang aku baca, melakukan semua ini tidak mudah buatku. Jujur aja, kejadian dalam hidupku yang kata temen-temen bloggerku bisa ditulis jadi novel menggemblengku untuk berpikir lebih dalam.

Ini lagi menenangkan diri mau ketemuan sama SO special dalam LDR. Nervousnya minta ampun... beneran...

1 comment:

Jatie Elgontory Sucipto said...

Blog yang sangat menarik..
Barokallohu alaik..