Monday, July 23, 2012

Soal jilbab wajib atau tidak

Aku sebetulnya sudah berusaha menjelaskan panjang lebar. Bahwa manusia beriman itu bicara yang baik, sekalipun pada orang yang bersikap jahat padanya. Manusia beriman juga mau memaafkan orang yang menjahatinya. Manusia beriman meninggalkan pembicaraan yang tidak berfaedah, bila orangnya gak mau ngerti-ngerti mending ditinggalkan saja. Aku masih berusaha menjadi beriman, soal apakah di bulan Ramadhan ini menjadi muttaqin tentunya bukan aku sendiri yang berhak menentukan. Yang bicaranya kasar, tidak bisa memaafkan orang lain, pendendam, masih kategori Islam KTP, karena semua tau orang beriman akan berusaha melakukan apapun agar Allah ridho.

Orang yang mengaku paham Islam kok senang banget memutuskan, yang pake jilbab masuk surga, yang belum pake jilbab masuk neraka. Pertaubatan itu masih bisa diterima Allah, kecuali bila nyawa ada di tenggorokan. Aku mengenal sendiri, ada wanita berjilbab yang menggunakan jimat untuk keselamatan agar tidak diserang dukun. Aku juga mengenal wanita yang tidak berjilbab semasa hidupnya meninggal dunia dalam keadaan berjilbab di Makkah.

Tidak ada yang bisa menilai apakah seseorang berhak masuk surga atau tidak, tapi kita bisa melihat ciri-cirinya saat meninggal, apakah dengan tenang, mengucap syahadat, atau dalam keadaan tersiksa.

Aku juga banyak mengenal pria yang bicara tentang Islam panjang lebar, tapi ternyata kesukaannya mencela orang yang tidak sepaham dengannya. Apakah mengenai bid'ah, atau ibadah yang dirasanya membuatnya lebih mendekatkan diri dengan Allah. Sekelompok mengatakan ibadah di luar sunnah adalah bid'ah, sekelompok lain mengatakan tanpa ibadah itu tidak akan bisa mendekatkan diri dengan Allah. Apa yang sudah paham Islam, rajin beribadah terbebas dari neraka jahanam? Masih ada riya', ghurur, 'ujub, syrik, menjual ayat-ayat sulit memaafkan orang lain, dan lainnya yang menyebabkan orang berilmu bisa terjun ke jurang neraka. Bahkan aku masih merasa bukan siapa-siapa, masih bisa saja terpeleset ke jurang neraka. Karena itu selalu berusaha memperbaiki diri semampuku dalam hal hubungan horizontal dan vertikal menurut ajaran Islam.

Komentarku terakhir di postingan Menurut Quraish Shihab jilbab tidak wajib, benarkah





2 comments:

arya-devi said...

yaitulah warna orang beragama....kebanyakan agama sudah dibajak oleh pemeluknya. Hanya mengutamakan simbol-simbol saja tanpa memahami esensi dari agama itu sendiri. Agama lebih kepada perbuatan dan perilaku bukan hanya sebatas tekstual yang dihafal dan dipahami. Agama mempunyai makna lebih tidak melihat dari kontekstual hadits dan Quran saja. Tetapi kepada penerapannya.

Ratnawati Utami said...

@arya devi. Iya tadi Shubuh pembicaranya cerita di dekat rumahnya di kampung sebuah pesantren ada yang melakukan ritual kesaktian, tidak mempan senjata tajam dengan menerapkan puasa dan bacaan Ayat Kursi yang tidak ada amalannya sesuai Al Qur'an dan Sunnah.

Saya orang Muhammadiyah, tentang NU bagaimana ya. Selama niatnya untuk tahlilan hanya peringatan meninggalnya seseorang seperti merayakan ultah ya gak papa. Berbahayanya kalo ada ritual berbau syrik itu saja.

Ada yang menerapkan sunnah mutlak termasuk cara berpakaian (kecuali kendaraan kali), ada yang meneruskan ritual Hindu yang menjadi versi Islam dijadikan tradisi.

Islam bisa masuk ke kalbu seseorang melalui berbagai cara, sah sah saja, selama tidak syrik tidak zalim. Itu menurutku...