Sunday, August 26, 2012

Lagi lagi menjawab e-mail soal jilbab tidak wajib

Sebetulnya aku sudah tidak ingin membahas tentang tulisanku yang berjudul kurang lebih seputar JILBAB TIDAK WAJIB. Komentar yang masuk ke sana sudah aku tutup. Tapi ada saja yang mengirimiku e-mail tentang topik itu.

Pertama seorang wanita yang menyatakan tentang kerelaan hatinya menggunakan jilbab untuk mendapatka surga di e-mail pertama. Lalu aku jawab, terus terang aku lebih melihat seseorang dari akhlak, kebaikan hati, jiwa sosial bukan dari jilbabnya. Soalnya orang berjiwa sosial yang tidak pakai jilbab itu lebih mudah diajak untuk bekerja sama dibandingkan yang pakai jilbab super longgar, mengurung diri, gak bisa ambil keputusan dengan cepat. Apalagi yang kerudungnya lebar itu biasanya anaknya banyak jadi cuman sibuk ngurusin anak yang lahir hampir tiap tahun.

Menurutku lagi kelompok hijabers itu punya banyak nilai positif. Menggunakan hijab secara trendy, banyak melakukan pengajian, dan berjiwa sosial. Cuman gak kuatnya kalo aku ikutan hijabers, bajuku yang minimalis, tidak punya semua warna. Kelompok hijabers yang pecinta mode itu bahkan pengajian ada dress code, warna ungu, pink, merah atau apalah. Terus kalo pas kondangan pake baju tertutup dengan payet-payetan heboh. Mungkin aku diketawain soalnya aku kalo kondangan pake baju minimalis tanpa payet, gak sanggup aku ngikutin selera mode kelompok hijabers. Selain selera bajuku yang minimalis, juga gak bisa pake kerudung aneh-aneh. Tapi toh aku perlu acungkan jempol pada kelompok hijabers yang bisa membuat wanita pecinta mode jadi tertarik menggunakan baju tertutup. Kalo aku sih, jangan cari aku di peragaan busana, cari aku di lapangan softball.

Tapi e-mail kedua dari wanita ini cerita, bahwa pacarnya menyuruh untuk tidak boleh menggunakan jilbab. Ya aku langsung jawab sebaiknya shalat istikharah saja karena seharusnya kalo orang beriman melihat yang dicintai berubah ke arah kebaikan didukung. Kita mencari calon suami adalah keimanannya diprioritaskan bukan dari yang lain.

Lalu ada e-mail seorang laki-laki yang menyatakan bahwa dia bernapas lega membaca tulisanku. Soalnya semua pengajian di lingkungannya menyatakan yang gak pake jilbab, gak pake jenggot, gak pake celana congklang masuk neraka. Kayaknya aku jauh lebih beruntung, karena di lingkunganku pengajian tidak pernah membahas kostum. Siapapun berhak belajar Islam. Termasuk wanita yang pakai kerudung pendek, atau memakai selendang kayak Afriyani. Tidak ada penghakiman kostum adalah syarat utama untuk masuk surga.

Pertama kali belajar Islam, yang diceritakan guruku adalah kisah pembunuh yang masuk ke surga karena bertaubat. Padahal terakhir kali yang dilakukan adalah membunuh seseorang yang menyatakan dia akan masuk neraka karena sudah membunuh orang 99 orang. Dalam perjalanan malaikat Ridwan dan Malik memperebutkan laki-laki ini apa mau dimasukkan ke surga atau neraka. Ternyata karena jarak menuju desa orang yang beriman lebih dekat akhirnya masuk surga.

Lalu aku juga membaca kisah seorang pelacur karena ketidak tahuannya sehingga melacur. Sikapnya memutuskan untuk membantu anjing yang hampir mati membuatnya masuk surga.

Atau cerita lain tentang mimpi seorang bertemu Al Ghazali yang bercerita bahwa beliau masuk surga bukan karena buku-bukunya tapi karena menyelamatkan lalat yang kecemplung di tintanya.

Kita tahu bahwa Allah melihat seseorang bukan dari wajah atau harta tapi dari hati. Para ahli ibadah berpendapat bahwa hanya dengan rajin beribadah membuat hati jadi bersih. Tapi yang aku tangkap bukan itu. Hati yang bersih adalah selain taat beribadah juga hati yang sibuk membantu orang lain, menyelamatkan jiwa orang lain, membahagiakan orang lain. Masalah kostum itu menyusul. Perbaikan hati dahulu lebih penting daripada perbaikan kostum apakah itu jilbab atau jenggot. Guruku cucu pendiri Muhammadiyah KH Ahmad Dahlan menyatakan, dulu ada perang karena bajunya sama makanya orang Islam menggunakan jenggot tanpa kumis untuk membedakan dengan orang kafir yang jahat (yang jahat lho, bukan kafir yang menghargai muslim). Jaman sekarang tidak ada perang di Indonesia secara fisik, malah perang teknologi. Jadi kita mesti juga menguasai teknologi dan tentunya sambil mengasah kepekaan dan kebersihan hati. Orang-orang yang bercelana congklang kebanyakan akhirnya berdagang, terus nanti yang menguasai teknologi siapa. Tapi tidak semua orang dengan celana congklang, soalnya ada seorang praktisi fisioterapi yang aku kenal mempunyai jenggot dan bercelana congklang menguasai profesinya sibuk mengajarkan gerakan shalat yang benar untuk kesehatan ditinjau dari segi medis.

Semakin belajar Islam dipersulit, semakin orang menjauh dari Islam. Lagi-lagi aku beruntung tempat aku kerja sangat mendukung teknologi. Aku mengajar di bidang PAUD, dan untuk SMP dan SMA ada sekolah internasional yang mendukung menguasai teknologi, juga mengasah bakat, dan ada belajar akhlak Islami serta membaca Al Qur'an.


Belajar Islam dimulai dari saling menghargai, saling menyayangi, mengingatkan tentang kebaikan, menolong sesama yang kekurangan, bukan dari kostum ini menurutku. Lingkunganku sangat mendukung pemikiranku ini, teman-temanku, guru tempat aku belajar Islam. Jadi yang ingin belajar Islam tanpa dimulai dari penekanan kostum aku perkenankan datang ke rumahku untuk berdiskusi. Rumah keluargaku sekalian tempat kerjaku. Ada Pendidikan Anak Usia Dini, ada sekolah belajar Al Qur'an sore hari, pengajian bapak-bapak, sekolah bagi yang berusia di atas 50 tahun. Dimulai dari ide bapakku almarhum yang membuat garasi kecil di rumah lama seukuran satu mobil untuk tarawih. Lalu bapak memberi amanat pada putri-putrinya (tidak ada putranya soalnya) yang menyatakan agar rumah peninggalan beliau ini dijadikan ladang, tabungan untuk bekal di akhirat.

Sedikit mengenang almarhum bapakku, beliau berhati lembut, sabar, suka menolong orang lain. Meninggal dengan sangat tenang saat shalat Shubuh padahal beliau menggunakan celana panjang menyentuh tanah mempunyai kumis dan tidak mempunyai jenggot. Juga mengenang almarhum mertua kakak kandungku seorang wanita yang sabar, sibuk mencari nafkah karena suaminya sakit, bersikap santun pada orang lain meninggal saat melakukan ibadah haji, padahal beliau selama ini menggunakan baju yang wajar dipandang orang Indonesia dan jarang menggunakan jilbab sehari-harinya...

Baca juga
Menurut Quraish Shihab jilbab tidak wajib benarkah
Cara agar bidadari surga cemburu pada wanita bumi
Apa dan bagaimanakah orang munafik
Terenyuh

7 comments:

Ratnawati Utami said...

Urutan neraka yang paling atas adalah untuk orang beriman tapi masih melakukan kesalahan, lalu diberi kesempatan untuk ke sorga bila sudah selesai menjalani hukumannya.

Urutan neraka ke empat adalah untuk iblis dan kru.

Di bawah neraka untuk iblis adalah untuk kafir dan musyrik.

Neraka paling bawah adalah untuk orang munafik, penampilan Islami tapi hatinya gelap. Suka berdakwah dengan menjelek-jelekkan orang lain, menghakimi orang lain, sampai lupa bahwa Islam mengedepankan perasaan orang lain, suka membantu orang lain yang kesusahan, selalu menyambung silaturahmi dan ukhuwah Islamiyah.

Sudah itu saja pembahasan kenapa suka menolong orang lebih penting bagi muslim dibanding sibuk membahas kostum

The Loe said...

ibarat beli gorengan pilih yg ditu2pin opo yg gk ditu2pin dibiarin dikerubutin la2t?
Loh,org kc disamain ma gorengan?

Ratnawati Utami said...

@The loe... contoh orang yang suka menghakimi. Bukan saya yang menyamakan manusia dengan gorengan. Seilakan cari pengajian yang menyamakan manusia dengan gorengan terima kasih

Tanpa Nama said...

semua baik, asalkan harus dipertanggung jawabkan resikonya karena tujan utama orang berpakaian berdasarkan niat.

Ibadah seseorang tidak harus jungkir balik menghadap tembok. sesuatu itu dapat diukur melainkan dari pada niat kemudian niat melakukan sesuatu itu karena apa?

Kalau melakukan karena mengikuti trend atau modis ya percuma aja donk, berjilbab. Begitu pula dengan orang yang tidak berjilbab apakah sudah benar niat kalian karena Allah SWT. Atau hanya ingin dinilai oleh orang lain?

Jadi itu semua pilihan anda milih dinilai oleh Allah SWT atau hanya sebatas dipuji orang. Padahal belum tentu orang yang menilai kita itu tulus, siapa tahu orang tersebut menginginkan sesuatu dari anda. Naudzubillah.

Jikalau kita melakukan sesuatu atas dasar Allah SWT dan hanya mengharap RidhoNya. Insyaallah kita akan kelihatan indah luar dalam, karena Allah SWT adalah Dzat Yang Maha Indah dan Yang Maha Menciptakan segala Keindahan apa yang ada di dunia dan akhirat, dengan begitu kita dapat memancarkan sinar keindahan Ilahi kepada diri kita baik itu secara bathiniyah maupun lahiriah.

BlogS of Hariyanto said...

semua orang pasti mati, dan mungkin saja mati dalam ketenangan, namun entahlah di akhirat..akankan dia juga akan tenang wallahualam.
Dalam hal berjilbab, saya lebih cenderung memilih wanita yang bersedia untuk memakai jilbab, walau ala kadarnya saja, yang sederhana,..kemudian kelak bila mampu dan sempat jilbab itu akan ia sempurnakan...dan saya cenderung tidak memilih kepada kelompok hijaber yang membuat jilbab menjadi mode sesuai selera mereka.
Kalau membandingkan non jilbab dengan jilbab, saya tetap cenderung memilih kepada yang berjilbab, karena secara lahiriah dia nampaknya sudah mau mengikuti ajaran Islam secara perlahan...urusan dalam hati biarlah ALLAH yang menilai maksud dari ia berjilbab.
Dan yang non jilbab, maaf, bukan meng-justice..karena saya juga punya saudari yang belum ber-hijab, mungkin mereka belum terpanggil dan belum menyadari bahwa ada pakaian yang membedakan kita dengan umat lainnya, dan agar kita terlindungi dari hal-hal yang tidak menyenangkan. Jadi..marilah kita doakan agar mereka bisa menyadarinya. ALLAH memang tidak melihat seseorang dari pakaiannya, tapi ALLAH sudah memberikan batasan dan tuntunan yang jelas..yang manakah hamba-NYA termasuk golongan orang bertakwa yang mengikuti segala ajaran-NYA dan menjauhi segala larangan-NYA...termasuk apakah dia berjilbab atau tidak....salam :)

r10 said...

aku juga suka dgn kisah pembunuh 99 orang, lalu dia tobat

kisah itu termasuk yg paling berkesan bagiku

Ira Lathief said...

hai mba..salam kenal...ga sengaja nemu blog mba waktu googling ttg ajaran jilbab yg tdk wajib...saya suka opini mbak ttg jilbab, sgt menyentuh hati dan logika...sy semakin tersentuh krn tulisan ini dibuat oleh seseorang yg berjilbab..btw hbs umroh kemarin, keluarga saya mengindikasikan keinginan mereka utk melihat sy berjilbab...tp terus terang, pengalaman spiritual di umroh malah memantapkan hati sy bahwa Allah itu maha besar, Ia menerima semua umatnya tanpa terkecuali tampilan luarnya.. saat ini sbg muslimah sy masih terus belajar menyempurnakan iman saya dg cara mjd pribadi yg lebih perduli thd org lain, insya allah